MATARAM –
**Borneonews - Mataram**, Merawat kekayaan budaya wastra tenun Nusa Tenggara Barat (NTB) di tengah gempuran modernisasi adalah sebuah tantangan sekaligus panggilan. Nita Setiawati, seorang pengrajin tenun berusia 32 tahun, tengah asyik menyelesaikan kain tenun bercorak bengkuang. Ketika ditanya tentang teknik yang digunakannya, Nita menjelaskan bahwa tenun Bima tetap mempertahankan metode tradisional dengan *gedogan*, berbeda dengan banyak tenun lainnya yang kini beralih menggunakan mesin. Di Bima, menenun tidak hanya menjadi keterampilan bagi perempuan, tetapi juga menjadi keahlian wajib bagi kaum pria. Nita, yang mulai belajar menenun sejak kelas lima SD, kini telah menghabiskan dua dekade dalam aktivitas ini. Saat ini, ia juga berperan sebagai seorang ibu dari dua anak. Keterampilan ini diperlihatkannya dalam Karya Kreatif NTB yang berlangsung di Epicentrum Lombok Mall, Mataram, berkolaborasi dengan Lombok Sumbawa Tenun Festival yang digelar pada 24 hingga 25 Agustus 2024. Kegiatan ini menjadi sorotan untuk memperkuat peran tenun dan para pengrajin di tengah tantangan dari produk *fast fashion*. Proses menenun dengan *gedogan* adalah bagian dari upaya melestarikan tradisi. Suara pukulan belida kayu mengiringi kerja tangan Nita yang lincah, menciptakan irama harmonis dalam setiap sulaman benang. Di kalangan masyarakat Bima, kegiatan ini jauh lebih dari sekedar menghasilkan kain; ia mencerminkan tiga aspek penting dalam jiwa manusia, yakni cipta, rasa, dan karsa. Setiap kain tenun yang dihasilkan tidak hanya mencerminkan keterampilan pengrajinnya, tetapi juga kondisi sosial budaya lingkungan tempat mereka tinggal. Motif-motif yang terdapat pada kain seringkali terinspirasi dari flora, fauna, dan simbol-simbol budaya setempat. Sebuah penelitian dari Jurusan Teknologi Industri Universitas Pendidikan Ganesha mencatat bahwa penggunaan motif dalam kain tenun Bima tidak hanya berorientasi fungsi, tetapi juga mencakup aspek sosial, estetika, dan ekonomi. Menggambarkan proses pembuatan, Nita menjelaskan bahwa untuk menyelesaikan selembar kain tenun ukuran 60 sentimeter x 4 meter, dibutuhkan waktu antara 4 hingga 5 hari. Harga jual kain tenun ini bervariasi, mulai dari Rp800 ribu. Namun, jika motif yang digunakan kompleks dan menggunakan pewarna alami, harganya dapat melesat menjadi jutaan rupiah. Dari sisi bahan baku, kapas menjadi elemen krusial dalam proses produksi tenun. Berdasarkan data dari Kementerian Pertanian, produksi kapas NTB antara 2018 hingga 2020 menunjukkan fluktuasi. Tahun 2018, luas tanam kapas mencapai 945 hektare dengan hasil panen 46 ton. Namun, pada 2019, luas penanaman menurun drastis menjadi 200 hektare, dan pada 2020 produksi kapas pun merosot menjadi 68 ton. Penyempitan lahan mungkin disebabkan oleh alih fungsi untuk pembangunan infrastruktur, dan budidaya kapas kehilangan daya tarik bagi petani karena dianggap tidak menguntungkan. Di Nusa Tenggara Barat, kapas diproduksi dan dijual murah ke Bali, yang kemudian diolah menjadi benang dan kembali dibeli oleh pengrajin di Lombok dan Sumbawa dengan harga yang lebih tinggi. Di Desa Giri Tembesi, sering disebut sebagai kampung kapas, upaya dilakukan untuk menjadikan perkebunan kapas sebagai industri berkelanjutan. Proses dari kapas menjadi benang hingga menjadi kain tenun kini sudah dapat dilakukan secara lokal, yang tentunya berpotensi menekan biaya produksi serta memperkecil jejak karbon. Namun, tantangan muncul jika industrialisasi tenun tidak didukung oleh peningkatan produksi kapas dan benang. Produksi yang tidak berkelanjutan dapat memaksa industri untuk bergantung pada bahan baku impor. Dari perspektif ekonomi, Muhammad Firmansyah dari Universitas Mataram menegaskan bahwa keberlanjutan industri tenun sangat penting. Banyak orang kini melihat tenun sebagai peluang bisnis berkat keunikan produk yang ditawarkan. Walaupun memiliki keunggulan komparatif, tenun belum sepenuhnya bersaing dalam hal harga. Oleh karena itu, pembenahan dalam biaya produksi, termasuk harga bahan baku dan upah tenaga kerja, perlu dilakukan. Umumnya, produk tenun yang ada di pasaran masih dipengaruhi oleh bahan baku yang diimpor, membuatnya menjadi mahal dan hanya dapat diakses oleh kalangan tertentu. Segmen pasar yang tersebar harus lebih diperhatikan agar produk tenun bisa menjangkau beragam lapisan masyarakat. Dalam industri fesyen, nilai budaya yang terkandung dalam kain tenun sangat penting. Namun, model dan inovasi harus diperkuat agar tetap relevan dengan pasar yang dinamis. Desainer harus berinovasi untuk menghadirkan berbagai produk turunan dari kain tenun, seperti pakaian, tas, dan berbagai aksesoris lainnya, yang tidak hanya estetis tetapi juga terjangkau. Dengan slogan "Bangga Buatan Indonesia", upaya untuk memajukan tenun harus menjadi bagian dari strategi pemasaran yang inklusif. Hal ini bertujuan untuk memberikan akses yang lebih luas kepada masyarakat, menciptakan peluang bisnis, dan menjadikan tenun sebagai bagian integral dari budaya dan perekonomian Indonesia yang berkelanjutan. ANTARA