MAKASSAR –
**Borneonews - Mamuju**, Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) tengah melaksanakan pemasangan sistem *bioflok* sebagai bagian dari upaya untuk mengembangkan budidaya ikan air tawar di wilayah tersebut. Kepala DKP Sulbar, Suyuti Marzuki, menyatakan bahwa pemasangan ini dilakukan di Komplek Perkantoran Gubernur Sulawesi Barat. Diketahui bahwa saat ini sudah ada dua prototipe *bioflok* yang diterapkan di Sulbar, di mana salah satunya telah dipasang di taman kolam milik pemerintah provinsi. Metode *bioflok* ini, yang terbuat dari bahan fiber, merupakan gagasan dari Penjabat Gubernur Sulbar, Bahtiar Baharuddin. Upaya ini bertujuan untuk memperkenalkan budidaya ikan air tawar dengan menggunakan teknik *bioflok*. Suyuti Marzuki menekankan bahwa langkah ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi masyarakat di masa mendatang. Melalui penerapan *bioflok*, masyarakat diharapkan dapat mengembangkan budidaya ikan tawar, yang dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi mereka. Selain itu, Suyuti menyatakan bahwa metode ini terbilang sederhana dan mudah dalam hal pemeliharaannya. Suyuti Marzuki juga menjelaskan bahwa bahan fiber yang digunakan untuk *bioflok* ini dipesan dari perusahaan pipa yang berlokasi di Makassar, Sulawesi Selatan. "Ini adalah usulan dan rancangan dari Penjabat Gubernur, lalu direalisasikan oleh perusahaan fiber di Makassar. Sangat sederhana, murah, dan mudah diterapkan," ujarnya. Dengan cara ini, masyarakat tidak perlu repot-repot membuat kolam secara manual, cukup melakukan pemesanan, sehingga memudahkan mereka dalam memelihara ikan nila. Selanjutnya, Bahtiar Baharuddin selaku Penjabat Gubernur Sulbar menyampaikan bahwa budidaya ikan air tawar merupakan salah satu solusi untuk menangani kendala terbatasnya lahan pertanian. Pemerintah Provinsi Sulbar juga berencana untuk menyiapkan satu juta benih ikan tawar yang akan didistribusikan kepada masyarakat pada tahun 2025 melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Pemerintah juga memberikan kemudahan akses bagi masyarakat melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) di sejumlah bank, yang memungkinkan masyarakat memperoleh modal untuk mengembangkan budidaya ikan tawar di Sulbar. "Ini merupakan komitmen pemerintah untuk mengalokasikan anggaran yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," tuturnya. Dalam kesempatan ini, Bahtiar juga mengumumkan kerja sama dengan PT Bomar untuk menerapkan metode *bioflok* ini di Sulawesi Barat. Menurutnya, metode ini masih jarang digunakan, sehingga sangat relevan untuk diterapkan di Sulbar dengan melibatkan partisipasi masyarakat. *Bioflok* sendiri adalah metode budidaya ikan yang memanfaatkan gumpalan mikroorganisme untuk memperbaiki kualitas air, mengolah limbah, dan mencegah penyakit. Proses ini melibatkan empat elemen utama, yaitu sumber karbon, bahan organik, bakteri pengurai atau probiotik, serta pasokan oksigen atau aerasi yang memadai. ANTARA