JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Seni kontemporer Indonesia mulai berkembang sekitar tahun 1930-an. Pertumbuhan ini dipicu oleh pengaruh modernitas yang memengaruhi struktur tradisional dan feodal yang ada, terutama yang diadopsi dari Eropa. Pada masa itu, seni modern Indonesia sering kali dipandang rendah oleh para penjajah Belanda, yang menganggapnya sebagai tiruan inferior dari karya seni mereka sendiri. Namun, pandangan ini perlahan mulai berubah. Menurut sumber dari Reformasiart, sebuah platform yang fokus pada penelitian seni kontemporer Indonesia pada masa Reformasi, pada akhir 1930-an, beberapa pameran yang diadakan oleh seniman-seniman Indonesia, termasuk Hendra Gunawan, Affandi, dan Sudjojono, berhasil mengubah persepsi tersebut. Pada awal perkembangannya, seni kontemporer di Indonesia sebagian besar berfokus pada lukisan-lukisan indah yang menggambarkan pemandangan alam Indonesia. Gaya ini terpengaruh oleh para pelukis kolonial yang kemudian mendapat kritik keras dari Sudjojono yang menyebutnya dengan istilah *Mooi Indie*. Seiring dengan berkembangnya beberapa asosiasi seni, seperti Taman Siswa dan Persagi (Asosiasi Pelukis Indonesia), serta adanya Akademi Seni Rupa, seni kontemporer Indonesia mulai tumbuh dengan ciri khasnya sendiri. Puncak dari perkembangan ini terjadi pada tahun 1980-an, di mana seni Indonesia mulai terlibat dalam dialog seni global. Saat ini, karya seni kontemporer dapat ditemukan di berbagai tempat, termasuk museum nasional dan koleksi pribadi, salah satunya adalah Jakarta Art Hub, yang terletak di pusat kota Jakarta. Tempat ini menarik banyak pengunjung setiap hari dan secara berkala menyuguhkan berbagai jenis pameran, mulai dari lukisan, patung, hingga seni instalasi. George Ante, salah satu staf di Jakarta Art Hub, mengemukakan pandangannya tentang seni kontemporer Indonesia, "Sejak awal kemunculannya di tahun 80-an hingga saat ini, saya melihat bahwa keberagaman adalah hal yang menonjol dalam seni kontemporer Indonesia." Salah satu pameran yang sedang berlangsung di Jakarta Art Hub adalah "Stay Without Having Arrived" karya seniman Ketut Nugi. Nugi adalah seorang seniman multi-disiplin yang memiliki keahlian dalam komposisi dan keterampilan ilustrasi yang lebih dari memadai. Dia pernah bekerja pada berbagai proyek termasuk dengan Bali Beach, Sayan House, dan Amandari sebagai perancang grafis. Ketut Nugi menunjukkan ketertarikan mendalam terhadap perkembangan sosio-historis Bali sejak era kolonial, berusaha mengungkap faktor-faktor yang telah membentuk Bali menjadi lokasi seperti sekarang. Ante menjelaskan bahwa Nugi menggali kembali hasil karya pencipta *image-makers* Bali awal abad ke-20 dengan pendekatan sosio-historisnya. Tujuannya adalah untuk menjelajahi lebih dalam ke dalam peristiwa-peristiwa masa lalu yang memengaruhi kondisi Bali saat ini. Sambil menunjuk pada dua karyanya yang berjudul "Your Luxury, Our Displacement" dan "Building a New Bali," Ante menjelaskan bahwa bangunan yang ditunjukkan merupakan warisan yang diberikan oleh penjajah kepada raja Bali setelah konflik bersenjata yang berlangsung selama 10 tahun dengan penduduk lokal, sebelum Bali dieksploitasi. Menurut Ante, dalam karyanya, Nugi mencoba menyampaikan bahwa banyak wisatawan yang berkunjung ke Bali tanpa memahami kehidupan masyarakat lokal, dan hanya ingin menjalani gaya hidup mereka sendiri di Pulau Dewata. Lalu, pameran lain yang tak kalah menarik di Jakarta Art Hub adalah "Rumah Chuans" karya seniman lokal Chuans Lee. Lee terinspirasi untuk menciptakan Rumah Chuans setelah memperhatikan elemen yang dianggap paling penting dalam kehidupan, yaitu rumah. Rizky Ardiansyah, salah satu staf di Rumah Chuans, mengungkapkan, "Karya ini menunjukkan zona nyaman sang seniman." Dia menjelaskan bahwa di masa lalu, Lee hanya berfokus pada mencapai puncak kesenian di Jakarta, tetapi kini dia lebih berusaha untuk menjelajah ke dunia seni yang lebih luas tanpa terjebak dalam zona nyaman. Menurutnya, melalui karya seni ini, kepribadian, emosi, perilaku sosial, pola pikir, dan rasa ingin melindungi diri serta keluarganya dapat dirasakan oleh audiens. Setiap warna yang digunakan menciptakan keharmonisan yang mengiringi proses pertumbuhan manusia. Berbicara mengenai kondisi seni kontemporer Indonesia saat ini, Rizky berpendapat bahwa seni ini telah menunjukkan kemajuan, meskipun dirasa masih belum cukup cepat. "Di Indonesia, banyak seniman lokal yang belum mendapatkan eksposur yang lebih tinggi. Dukungan dari pemerintah juga masih terbatas, sehingga sering kali seniman harus bergantung pada diri sendiri," tambah Rizky. Di siang hari pada hari kerja, pengunjung yang datang untuk menikmati pameran seni di Jakarta Art Hub tidak pernah sepi. Salah satunya adalah Aulia Kamila, seorang mahasiswi berusia 21 tahun. Ia mengungkapkan, "Dulu, anak-anak Indonesia seperti saya sangat menyukai seni, tetapi tidak pernah memahami perjuangan di baliknya. Saya datang ke sini untuk mengetahui lebih jauh mengenai seni yang ada." Saat ditanya mengenai pengetahuannya tentang seni kontemporer, Aulia mengaku kurang memahami sebelum mengunjungi pameran. "Saya tidak tahu banyak tentang perkembangan seni kontemporer di negara kita, tetapi saya percaya bahwa semakin banyak karya seni yang ada, semakin baik bagi pemerintah untuk mendukungnya karena hal ini penting untuk pendidikan generasi mendatang," katanya. George Ante menambahkan, perkembangan seni kontemporer di Indonesia memang tampak telah mengalami banyak variasi berkat latar belakang sosial politik negara yang beragam. "Saya pikir ini luar biasa, tetapi jika dibandingkan dengan seni kontemporer di negara lain, perkembangan kita masih dalam tahap pertumbuhan," terangnya. Ante juga mengapresiasi dukungan yang diberikan oleh Presiden Joko Widodo terhadap industri seni, namun beliau merasa bahwa masih dibutuhkan lebih banyak usaha. "Dukungan pemerintah terbilang lambat, karena di Indonesia kita memiliki berbagai divisi untuk beraneka ragam jenis seni, seperti seni kontemporer, film, dan pertunjukan. Ini yang menyebabkan dukungan terhadap industri seni kontemporer berjalan kurang cepat," jelas Ante. Meskipun dukungan dari pihak pemerintah terbilang lambat, seni kontemporer Indonesia tetap berupaya untuk berkembang sejak tahun 1980-an. Berbagai bentuk seni yang berbeda telah muncul dalam negeri dan diharapkan dapat terus menunjukkan keunikan serta daya tariknya kepada audiens global. ANTARA