JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengintensifkan kolaborasi penelitian dengan pendekatan *One Health* untuk mencegah penularan penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang berpindah dari hewan ke manusia. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap ancaman kesehatan yang semakin meningkat akibat penyakit-penyakit yang bersumber dari hewan. Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, Indi Dharmayanti, dalam sebuah pernyataan mengungkapkan bahwa pemerintah berkomitmen untuk menangani berbagai ancaman yang diakibatkan oleh zoonosis. Hal ini dilakukan dengan menerapkan strategi *One Health*, yang mengintegrasikan kebijakan kesehatan di tiga bidang utama: manusia, hewan, dan lingkungan. Konsep ini diharapkan dapat menciptakan kerangka kerja yang holistik dalam penanganan masalah kesehatan. Indi menyatakan bahwa penelitian lintas disiplin sangat diperlukan sebagai solusi untuk meningkatkan pencegahan, deteksi, dan respons terhadap penyakit zoonosis serta penyakit baru yang mungkin muncul. "Pendekatan terpadu sangat penting dalam menangani isu-isu ini," tambahnya. Ia juga menekankan bahwa penyakit zoonosis dan penyakit infeksius baru, yang seringkali disebut sebagai *emerging/re-emerging diseases*, tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat, melainkan juga berdampak negatif pada stabilitas ekonomi, ketahanan pangan, dan keanekaragaman hayati. Peningkatan frekuensi serta dampak dari penyakit-penyakit ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti globalisasi, perubahan lingkungan, serta meningkatnya interaksi antara manusia dan hewan. Untuk memperkuat upaya penanganan penyakit zoonosis dan penyakit infeksius baru, Indi menekankan pentingnya kolaborasi yang erat dengan mitra baik di tingkat nasional maupun internasional. Inisiatif ini ditujukan untuk mendorong penelitian interdisipliner, membangun jaringan kerja sama, serta meningkatkan kapasitas dalam menghadapi zoonosis dan penyakit baru. "Melalui penguatan penelitian dan kolaborasi *One Health*, kita bisa memberikan perlindungan yang lebih efektif untuk kesehatan masyarakat, sekaligus melestarikan keanekaragaman hayati dan memastikan pembangunan yang berkelanjutan di Indonesia," jelasnya. Kepala Pusat Riset Veteriner BRIN, Harimurti Nuradji, sejalan dengan pendapat Indi, menyoroti pentingnya upaya pencegahan dan deteksi dini terhadap penyakit zoonosis. Ia mencatat bahwa wabah seperti COVID-19, nipah, flu burung, dan ebola telah mengungkapkan perlunya peningkatan kesadaran akan ancaman kesehatan ini. Dari pengamatan tersebut, Harimurti menekankan adanya kesenjangan dalam sistem pemantauan dan pengendalian penyakit zoonosis saat ini. Oleh karena itu, penerapan kerangka *One Health* dianggap sangat penting untuk memahami serta mengurangi risiko yang ditimbulkan oleh penyakit-penyakit ini. "Melalui pengumpulan sumber daya, pertukaran pengetahuan, dan kolaborasi para pemangku kepentingan dalam forum diskusi kelompok terpimpin, kita dapat menciptakan dan mengembangkan strategi penanganan penyakit yang lebih efektif. Ini termasuk upaya pencegahan yang lebih baik dan membangun kapasitas yang diperlukan untuk mengimplementasikan strategi tersebut di tingkat lokal, nasional, dan internasional," ujar Harimurti. ANTARA