BOGOR –
**Borneonews - Kabupaten Bogor**, Penjabat Bupati Bogor, Asmawa Tosepu, secara resmi mengembalikan duplikat bendera pusaka ke pendopo darurat yang terletak di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, pada hari Senin. Pendopo darurat ini merupakan lokasi bersejarah yang digunakan pada masa pemerintahan Bupati Bogor pertama, Ipik Gandamana, saat periode agresi penjajahan. Bendera pusaka tersebut sebelumnya dipinjam oleh Asmawa pada 15 Agustus 2024 dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun ke-79 Republik Indonesia tingkat kabupaten, yang diadakan di Lapangan Tegar Beriman, Cibinong. Dalam kesempatan tersebut, Asmawa mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada masyarakat Desa Malasari yang dengan rajin menjaga bendera merah putih, yang merupakan simbol persatuan bagi seluruh rakyat. Setelah proses penyerahan bendera pusaka di lokasi pendopo eks-Bupati Bogor, Asmawa turut mengikuti sejumlah prosesi yang berkaitan dengan tradisi budaya setempat. Kegiatan tersebut meliputi membelah kelapa, menanam padi, menebar benih ikan, melakukan *tutungulan*, serta membawa beras ke lumbung. "Saya ingin memastikan bahwa kami memenuhi janji untuk mengembalikan bendera pusaka ini, yang telah kami pinjam untuk disimpan dan dijaga. Ini adalah bendera pusaka milik kita bersama," ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa melalui proses pengambilan dan pengembalian bendera tersebut, dengan waktu tempuh sekitar tiga jam, Pemerintah Kabupaten Bogor bertujuan untuk lebih mengenalkan sejarah kantor bupati yang ada di Malasari kepada masyarakat setempat. Asmawa menegaskan bahwa sejarah tersebut penting untuk diketahui oleh semua warga Kabupaten Bogor, khususnya generasi muda, dan ia memandang kegiatan ini sebagai bagian dari edukasi yang harus dilakukan. Ia berharap tradisi semacam ini dapat diaktualisasikan menjadi bagian dari budaya Pemerintah Kabupaten Bogor guna memperkuat integrasi sosial serta semangat nasionalisme di tengah kemandekan perubahan zaman dan kemajuan teknologi informasi. Desa Malasari memiliki keunikan tersendiri, mengingat di sana terletak kantor pemerintahan Kabupaten Bogor yang pertama, yang berfungsi pada masa kepemimpinan Bupati Ipik Gandamana antara tahun 1948 hingga 1949. Rumah bersejarah yang terletak di kaki Gunung Halimun ini adalah tempat Ipik Gandamana mengatur pemerintahan Bogor selama delapan bulan di tengah agresi penjajahan, hingga terjalin gencatan senjata antara TNI dan tentara Belanda. "Kita harus memastikan bahwa tempat bersejarah ini terawat, terjaga, dan lestari, bukan hanya untuk saat ini, tetapi juga menjadi warisan untuk generasi penerus di Kabupaten Bogor," tegasnya. ANTARA