**Borneonews - Mentok**, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, yang terletak di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, telah mengambil langkah signifikan dalam upaya pemberantasan demam berdarah dengue (DBD). Sebanyak 5.000 ekor ikan *nila* disiapkan untuk membantu mengurangi populasi jentik nyamuk Aedes aegypti. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka Barat, Sapi’i Rangkuti, menjelaskan bahwa jentik nyamuk ini biasanya berkembang biak di genangan air. Untuk itu, ia mendorong masyarakat agar memelihara ikan *nila*, yang dikenal efektif dalam mengendalikan populasi jentik tersebut. Ikan-ikan ini akan didistribusikan melalui pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) di seluruh kecamatan, dan pembagian dilakukan langsung kepada warga yang membutuhkan. Proses distribusi akan dilaksanakan secara bertahap dengan kolaborasi dari Dinas Perikanan setempat. Rangkuti menambahkan bahwa pihaknya juga akan melakukan survei lapangan untuk memastikan bahwa ikan yang didistribusikan benar-benar diterima dan dirawat dengan baik oleh masyarakat. Selain distribusi ikan, pihak dinas juga mengimbau masyarakat untuk lebih memperhatikan lingkungan sekitar. Hal ini mencakup penerapan pola hidup bersih dan sehat, melakukan pengurasan tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, serta mendaur ulang barang-barang yang dapat menjadi potensi lokasi berkembang biaknya nyamuk. Nyamuk *Aedes aegypti* adalah vektor penyakit yang dapat menularkan berbagai penyakit, termasuk demam berdarah, demam kuning, chikungunya, dan virus Zika. Nyamuk ini biasanya hidup di tempat-tempat yang lembab, seperti bak mandi, kaleng bekas, talang air, dan tempat minum hewan. Oleh karena itu, kebersihan lingkungan menjadi hal yang sangat penting. Sejak Januari hingga Agustus 2024, Kabupaten Bangka Barat telah mencatat sebanyak 162 kasus DBD yang tersebar di delapan puskesmas. Puskesmas Kecamatan Mentok mencatat jumlah kasus tertinggi dengan 101 kasus, yang sebagian besar dialami oleh anak-anak. Untungnya, sampai saat ini tidak ada laporan tentang adanya pasien yang meninggal akibat DBD. Dalam upaya pencegahan lebih lanjut, diharapkan seluruh warga dapat berperan aktif dalam memberantas sarang nyamuk secara rutin. Mengingat bahwa *Aedes aegypti* cenderung berada dan berkembang biak di lingkungan tempat tinggal, partisipasi aktif dari masyarakat sangat dibutuhkan. Rangkuti menegaskan bahwa pihaknya, bersama berbagai instansi terkait, telah melakukan sejumlah langkah pengendalian dan sosialisasi guna meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan serta mencegah penularan DBD. ANTARA