AMBON –
**Borneonews - Ternate**, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, bersama dengan sejumlah pejabat deputi, direncanakan akan melakukan tinjauan ke lokasi bencana banjir bandang di Kelurahan Rua, Kota Ternate. Rencana kunjungan ini dilakukan menyusul kejadian bencana yang mendapatkan perhatian serius dari pemerintah pusat. Koordinator Posko Tanggap Darurat, Rizal Marsaoly, mengungkapkan bahwa kunjungan tersebut akan dilaksanakan pada pagi hari. Menurutnya, kegiatan ini penting bagi penanganan situasi darurat yang tengah dihadapi masyarakat. "Kunjungan ini merupakan respons BNPB yang menunjukkan perhatian terhadap dampak bencana ini," ungkap Rizal di Ternate. Dalam agenda tersebut, Letjen TNI Suharyanto akan mengadakan rapat koordinasi dengan pihak-pihak terkait di Ternate. Fokus dari pertemuan ini adalah untuk membahas langkah-langkah penanganan bagi para korban banjir bandang yang saat ini telah dievakuasi ke lokasi-lokasi pengungsian yang telah disediakan, terutama di SMKN 4 Kota Ternate. Selain itu, Kepala BNPB dijadwalkan untuk bertemu dengan para korban bencana dan melakukan peninjauan langsung terhadap kondisi di lapangan. Situasi di area pengungsian saat ini sangat memprihatinkan, di mana para korban membutuhkan berbagai perlengkapan mendasar seperti tempat tidur, matras, dan perlengkapan bagi bayi serta lansia untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama berada di lokasi pengungsian yang ditangani oleh Tim Posko Tanggap Darurat. Di sisi lain, Kepala Biro Adpim Setda Pemprov Maluku Utara, Rahwan K Suamba, juga mengatakan bahwa Letjen TNI Suharyanto beserta timnya melakukan perjalanan ke Ternate untuk memantau secara langsung dampak bencana banjir ini. "Sebelum turun ke lapangan, beliau akan mengadakan rapat koordinasi dengan Pemerintah Kota Ternate dan Penjabat Gubernur Maluku Utara," jelas Rahwan. Berdasarkan data yang diperoleh dari Polda Maluku Utara dan BPBD Ternate, tercatat ada 25 rumah yang mengalami kerusakan akibat banjir bandang. Dari jumlah tersebut, 20 rumah dan satu tempat ibadah dinyatakan rusak berat, sementara lima rumah lainnya hilang karena tertimbun lumpur. Penanganan yang cepat dan tepat sangat dibutuhkan agar masyarakat dapat segera mendapatkan perbaikan dan bantuan yang memadai. ANTARA