JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Imam Besar Masjid Istiqlal, KH. Nasaruddin Umar, menggambarkan perbedaan yang ada dalam masyarakat Indonesia sebagai sebuah karya seni hidup yang diciptakan oleh Tuhan. Dalam pandangannya, keberagaman yang dimiliki bangsa ini tidak hanya mencakup keindahan alam, tetapi juga meliputi variasi warna kulit, bahasa, budaya, serta agama yang ada. Menurut Nasaruddin, latar belakang yang beragam dari masyarakat Indonesia seharusnya dimaknai sebagai sebuah keindahan yang patut disyukuri. Ia menegaskan bahwa keragaman ini merupakan salah satu faktor yang membuat Indonesia mendapatkan pengakuan dari bangsa lain. Meskipun memiliki beragam karakteristik, masyarakat Indonesia mampu bersatu dan hidup berdampingan dengan damai. Ia menjelaskan bahwa rasa persatuan di Indonesia telah dibangun atas dasar pengalaman sejarah yang sama. Penjajahan yang dialami bangsa ini selama ratusan tahun menciptakan rasa saling mendukung dan memperkuat ikatan persaudaraan antarsesama. "Kemerahan ini adalah hasil dari perjuangan bersama, yang menjadi faktor pengikat yang sangat kuat dalam persahabatan dan persaudaraan di antara kita," ungkap Nasaruddin. Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa prinsip persatuan ini juga dipupuk oleh para pendiri bangsa melalui Pancasila, yang menjadi falsafah dasar negara. Dalam konteks ini, Nasaruddin memberikan contoh nyata mengenai kerukunan hidup beragama, yaitu hubungan antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta. Kedua rumah ibadah ini terhubung oleh sebuah terowongan yang dikenal dengan nama Terowongan Silaturahmi, yang berfungsi sebagai simbol toleransi antarumat beragama. "Bukan hanya sekadar terowongan, tetapi juga sebuah simbol yang menunjukkan kedekatan antarwarga negara Indonesia," jelasnya. Nasaruddin menekankan bahwa Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral tidak hanya merepresentasikan kerukunan antara umat Islam dan Katolik, tetapi juga mencakup semua agama yang ada dalam masyarakat. Dia menambahkan, "Dialog antarumat beragama secara rutin dilakukan di ruangan-ruangan masjid dan katedral, dengan melibatkan umat Hindu, Buddha, Konghucu, serta Katolik dan Protestan." ANTARA