BANTEN –
**Borneonews - Tangerang**, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Tangerang, Herman Suwarman, menekankan pentingnya pengoptimalan program *Satu Telur Satu Minggu* (Satesami) di kalangan pegawai sebagai langkah strategis dalam menghadapi masalah stunting yang masih menjadi tantangan di wilayah tersebut. Program pemberian telur kepada anak-anak yang terindikasi mengalami stunting merupakan salah satu komponen dalam rangka intervensi untuk mencegah serta menurunkan angka stunting. Dalam kegiatan Rapat Koordinasi (Rakor) Audit Kasus Stunting (AKS), Herman menyampaikan bahwa ada beberapa program lain yang juga perlu dimaksimalkan. Di antaranya adalah Gerakan Anak Tangerang Sehat dan Cerdas (*Gertak Tangkas*), Dapur Sehat Anak Stunting (*Dashat*), serta upaya dari PKK dan skrining TBC di Posyandu Engkong Asuh Stunting. Langkah-langkah tersebut mencakup pemberian bantuan berupa uang, makanan, serta alat antropometri kepada keluarga yang membutuhkan. Sebagai Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) di tingkat Kota Tangerang, Sekda Herman menggarisbawahi pentingnya mengoptimalkan baik intervensi spesifik maupun intervensi sensitif. Kedua jenis intervensi ini menjadi kunci dalam percepatan penurunan angka stunting di daerahnya. Intervensi spesifik berfokus pada aspek-aspek langsung yang mempengaruhi stunting, seperti asupan makanan yang adekuat, penanganan infeksi, status gizi ibu, penanganan penyakit menular, serta aspek kesehatan lingkungan. Sektor kesehatan umumnya memegang peranan dalam pelaksanaan intervensi spesifik ini. Sementara itu, intervensi sensitif lebih berkaitan dengan peningkatan akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi. Program ini biasanya diimplementasikan oleh lembaga selain Kementerian Kesehatan, seperti Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (*BKKBN*) melalui organisasi perangkat daerah (OPD) terkait. Herman juga menjelaskan bahwa tujuan dari rakor tersebut adalah untuk mengidentifikasi serta memahami faktor-faktor yang berisiko menyebabkan stunting, khususnya di Kota Tangerang. Identifikasi ini akan diikuti dengan analisis hasil untuk menyusun rekomendasi guna mencegah stunting lebih lanjut. Rekomendasi tersebut diharapkan dapat ditindaklanjuti dengan merumuskan berbagai strategi perbaikan. Berbagai strategi harus diimplementasikan, termasuk meningkatkan kualitas kehidupan dalam keluarga, memenuhi kebutuhan gizi, memperbaiki pola asuh, serta meningkatkan akses dan pelayanan kesehatan. Akses air minum bersih dan sanitasi juga perlu diperhatikan, semua langkah ini bisa dilakukan melalui optimalisasi intervensi spesifik serta sensitif. Melihat data yang tercatat, prevalensi stunting di Kota Tangerang menunjukkan penurunan signifikan dari angka 19,1 persen pada 2018 menjadi 11,8 persen pada 2022. Namun, pada 2023 angka tersebut mengalami sedikit kenaikan menjadi 17,6 persen, meskipun angka ini tetap lebih rendah dibandingkan dengan angka provinsi Banten yang mencapai 24 persen dan nasional sebesar 21,5 persen. Dinas Kesehatan Kota Tangerang juga menginformasikan bahwa prevalensi stunting pada Juni 2024 tercatat mencapai 4,9 persen. Selain itu, Dinas Kesehatan telah melakukan skrining terhadap 77.062 balita di wilayah tersebut untuk memantau dan menangani masalah stunting secara lebih efektif. ANTARA