BANTEN –
**Borneonews - Serang**, Pemerintah Provinsi Banten mengharapkan agar badan usaha milik daerah (BUMD) dapat menyerap hasil panen yang melimpah dari petani lokal. Langkah ini diharapkan dapat berkontribusi dalam menstabilkan harga beras di pasaran. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Banten, Babar Suharso, menyatakan bahwa upaya ini sangat penting, terutama saat harga beras mengalami kenaikan, meskipun pasokan beras impor masih ada di tengah masyarakat. Dalam penjelasannya, Babar juga menginformasikan bahwa berdasarkan data terkini dari Bulog, total beras impor yang telah masuk mencapai 2,5 juta ton. Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan stok beras di Banten masih dalam kondisi aman. "Namun, saat ini kita sedang memasuki musim tanam, dan waktu yang dibutuhkan untuk panen cukup lama, sekitar empat bulan. Oleh karena itu, langkah antisipasi terhadap stok harus dilakukan secara menyeluruh di wilayah Banten," jelas Babar. Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya langkah strategis dalam penyerapan hasil panen. "Badan usaha yang ada, yaitu BUMD PT ABM (Agrobisnis Banten Mandiri), seharusnya dapat membeli hasil panen dari para petani. Dengan demikian, saat harga beras mengalami lonjakan yang signifikan, kita dapat menjalankan operasi pasar untuk menekan harga tersebut," ungkapnya. Babar juga mengungkapkan bahwa sudah ada produsen beras yang siap untuk menyuplai 100 ton beras medium per bulan di Provinsi Banten. Produksi ini berpotensi bekerja sama dengan PT ABM untuk memastikan ketersediaan beras di pasar lokal. Saat ini, Banten tengah berada dalam periode panen raya, yang menjadikan waktu ini sangat strategis untuk menyerap hasil pertanian. "Kami sangat mengimbau agar penyerapan hasil panen dilakukan pada waktu yang tepat, yaitu saat panen terjadi. Jika penyerapan dilakukan setelah masa panen berakhir, maka akan sia-sia. Optimalisasi waktu ini sangat kami tekankan agar penyerapan dapat berjalan efisien," jelas Babar. ANTARA