JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Legenda bulu tangkis yang pernah membawa pulang medali emas Olimpiade Sydney 2000, Candra Wijaya, memberikan perhatian khusus terhadap penampilan dua duet ganda putra Indonesia yang baru, yaitu Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana dan Muhammad Shohibul Fikri/Daniel Marthin. Keduanya baru saja memulai debut di ajang Japan Open yang berlangsung di Yokohama, Kanagawa, pekan lalu. Kedua pasangan ini, yang sebelumnya dikenal dengan nama Leo/Daniel dan Bagas/Fikri, menunjukkan performa positif dalam debut dengan pasangan baru mereka. Mereka berhasil melaju hingga semifinal, meskipun sayangnya tidak berhasil mencapai final. Pada partai semifinal, Leo dan Bagas harus mengakui kekalahan dari pasangan asal Malaysia, Goh Sze Fei/Nur Izzuddin, dengan skor 19-21, 17-21. Sementara itu, Fikri dan Daniel mengalami kekalahan yang lebih dramatis dalam pertarungan tiga gim melawan pasangan peringkat empat dunia asal Korea Selatan, Kang Min Hyuk/Seo Seung Jae. Pertandingan tersebut berakhir dengan skor 21-12, 15-21, 19-21. Candra Wijaya memberikan pandangannya mengenai penampilan kedua pasangan tersebut. Ia mengungkapkan, "Kalau permainan, ya mereka mampu bersaing." Ujarnya saat berhadapan dengan media di Jakarta. Mengenai keputusan untuk melakukan pertukaran pasangan, Candra berpendapat bahwa langkah tersebut memang sudah tepat dan perlu dicoba. "Ya, memang sudah waktunya, atau mungkin memang harus dicoba demikian," ungkap pria berusia 48 tahun tersebut. Lebih jauh, Candra juga menyoroti perlunya pihak Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) untuk lebih berani mengorbitkan pemain-pemain muda lainnya. Ia menilai bahwa saat ini, potensi atlet junior harus lebih didorong untuk menunjukkan kemampuannya. "Saya melihat bahwa kita harus meningkatkan atau mengeksplorasi potensi dari pemain-pemain junior yang ada. Namun, jumlah pemain yang ada sekarang masih kurang, dan mereka perlu berlatih lebih keras," jelasnya. Candra juga memberikan komentar terhadap hasil yang kurang memuaskan bagi tim bulu tangkis Indonesia di Olimpiade Paris yang lalu. Dia mengamati bahwa beberapa nama-nama unggulan harus terpaksa gugur dari ajang tersebut dan hanya meninggalkan tunggal putri Gregoria Mariska Tunjung yang berhasil meraih medali perunggu. Menurut Candra, kegagalan meraih medali emas dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kesalahan dalam menerapkan strategi di lapangan, kelelahan, serta beban berat yang ditanggung tim dalam mempertahankan tradisi meraih emas. "Saya juga merasa prihatin dan tentunya merasa sedih. Saya rasa persiapan tim sudah maksimal, dan usaha mereka juga cukup baik," tambahnya. Candra yang kini berperan sebagai mentor ganda putra di tim Ad Hoc PBSI untuk persiapan Olimpiade 2024 menyoroti tentang persaingan yang ketat di tingkat internasional. Dia juga mencatat bahwa ada kemungkinan para atlet merasa terlalu kelelahan mengingat jadwal yang padat, terutama setelah bertanding di Eropa. "Persiapan kita sudah sangat baik, namun bisa saja anak-anak mengalami kelelahan karena perjalanan yang panjang," tutupnya. ANTARA