PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Direktur Eksekutif PSKS-INSTIPER, Dr Purwadi menyampaikan paparan mengenai Tantangan dan Kebutuhan Riset Pembangunan Perkebunan Sawit Rakyat pada Rapat Pembahasan Progres Kemajuan Penyusunan Revisi Roadmap Riset Sawit Indonesia Tahun 2016-2030 di Bogor pada 14 hingga 15 Agustus 2024.

Purwadi memberikan masukan dalam paparannya bahwa membangun perkebunan rakyat perlu model yang berbeda dengan perkebunan besar karena memiliki karakter yang berbeda.

"Membangun perkebunan rakyat membutuhkan kajian, riset tambahan dari sekedar sentuhan aplikasi inovasi teknologi," kata Dr Purwadi dalam rilis yang dikirimkan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit atau BPDPKS pada Selasa, 27 Agustus 2024.

Selain itu juga, lanjutnya, dibutuhkan teknologi tepat yang berbasis lokal dan tersedia di kebun. "Hal itu lebih diinginkan, ditambah teknologi baru," tuturnya.

Purwadi juga menyampaikan dalam paparannya bahwa riset-riset mulai dari kajian atau profiling, desain social engineering, desain institutional engineering dibutuhkan untuk diseminasi teknologi, budaya dan regulasi.

"Perkebunan rakyat membutuhkan bantuan alat teknologi untuk membangun kapasitasnya. Aplikasi teknologi perlu dipaketkan dengan Sarpras atau Alat dan Bahan," tegasnya.

--page

Purwadi mengatakan bahwa yang akan dibangun adalah ekosistem sawit berkelanjutan, dengan mengajak semua stakeholder terkait untuk memberikan kontribusi positif dalam menjaring masukan-masukan diberikan dalam proses updating Revisi Roadmap Riset Sawit BPDPKS.

"Kita juga menyoroti bagaimana sektor hulu untuk SDM secara khusus perlu dirisetkan untuk petani saat ini," tegasnya.

Kegiatan ini dihadiri oleh stakeholder perkebunan kelapa sawit, mulai dari kementerian teknis, Direktorat teknis terkait, anggota Komite Penelitian dan Pengembangan BPDPKS, asosiasi petani sawit, asosiasi pengusaha sawit dan lembaga peneliti. (TESTI PRISCILLA/Y)