JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, PT Pertamina (Persero) melalui subholding Pertamina New and Renewable Energy, sedang menjajaki berbagai peluang kerja sama strategis dalam ajang Forum Bisnis Indonesia-Amerika Serikat yang dilaksanakan di Washington DC, Amerika Serikat. Dalam kesempatan tersebut, Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, menyampaikan bahwa Indonesia memiliki beragam potensi sumber daya energi bersih yang menarik bagi investor internasional. Ia menekankan bahwa upaya Pertamina adalah untuk meyakinkan dunia internasional mengenai komitmennya dalam mendukung program transisi energi guna mempercepat pencapaian target *Net Zero Emission* (NZE) pada tahun 2060. Fadjar menjelaskan bahwa forum bisnis ini diselenggarakan bertepatan dengan peringatan 75 tahun hubungan bilateral antara Indonesia dan Amerika Serikat. Partisipasi aktif Pertamina dalam acara yang diadakan oleh KBRI di AS pada tanggal 26 Agustus ini dianggap sangat penting, karena bisa membuka peluang baru dan berkontribusi dalam upaya Pertamina untuk menjadi perusahaan yang diakui di tingkat global. "Dalam momen krusial ini, Pertamina berupaya menyampaikan kebijakan *sustainability* perusahaan, sekaligus membuka jalur investasi dan kemitraan global terutama di sektor pengembangan energi baru terbarukan," tambahnya. Fadjar juga mengungkapkan bahwa Pertamina sepenuhnya terbuka untuk melaksanakan kebijakan *sustainability* melalui kolaborasi yang kuat baik di tingkat nasional maupun internasional. Sementara itu, CEO Pertamina New & Renewable Energy (PNRE), John Anis, yang turut menjadi panelis dalam forum tersebut, menyatakan bahwa PNRE memiliki mandat untuk mendukung pemerintah Indonesia dalam mencapai target penurunan emisi, sekaligus mengembangkan bisnis yang berkelanjutan di masa depan. Ia berharap PNRE bisa menjadi pemimpin dalam menciptakan ekosistem NZE di tanah air. John menambahkan informasi penting terkait realisasi *Capital Expenditure* (Capex) PNRE yang direncanakan mencapai 6,2 miliar dolar AS hingga tahun 2029. Sebanyak 63 persen dari alokasi tersebut akan digunakan untuk pengembangan energi terbarukan, seperti tenaga surya, angin, dan geothermal. Lebih lanjut, ia membagikan rincian tentang distribusi Capex lainnya; 18 persen dialokasikan untuk solusi rendah karbon, termasuk dekarbonisasi. Sementara itu, 11 persen untuk pengembangan biomassa dan bioetanol, dan sisanya 6 persen untuk pengembangan bisnis masa depan. "PNRE memiliki komitmen kuat untuk mengembangkan bisnisnya. Oleh karena itu, kami membuka peluang kerja sama dengan mitra lokal maupun internasional, termasuk dari Amerika Serikat," ungkap John. Acara ini dihadiri oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Under Secretary of Commerce for International Trade of The United States Marisa Lago, serta berbagai perwakilan pemerintah dan pelaku usaha dari kedua negara. Pertamina, sebagai salah satu pemimpin dalam bidang transisi energi, berkomitmen untuk mendukung pencapaian target *Net Zero Emission* pada tahun 2060. Ini sejalan dengan upaya yang dilakukan untuk mendukung *Sustainable Development Goals* (SDGs) melalui program-program yang memberikan dampak langsung. Seiring dengan itu, penerapan *Environmental, Social & Governance* (ESG) diterapkan di seluruh bidang dan operasi Pertamina. ANTARA