**Borneonews - Padang**, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mengangkat isu mengkhawatirkan terkait sejumlah guru di daerah ini yang terjebak dalam utang. Masalah ini sebagian besar disebabkan oleh perilaku konsumtif yang berlebihan di kalangan mereka.
Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Sumbar, Suryanto, menjelaskan bahwa banyak guru yang mengalami kesulitan finansial, hingga gaji mereka tidak tersisa. Hal ini disampaikan Suryanto dalam acara peringatan Hari Indonesia Menabung yang mengusung tema "Menabung Untuk Indonesiaku" di Padang.
Walaupun Suryanto tidak memberikan rincian spesifik mengenai jumlah guru yang menghadapi masalah utang, perlu diketahui bahwa saat ini sejumlah besar guru, khususnya yang berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN), sudah menerima tunjangan profesi yang setara dengan satu bulan gaji mereka. Suryanto menekankan, "Pola hidup konsumtif menjadi beban yang berat bagi guru."
Pihak Dinas Pendidikan mengingatkan akan kesulitan yang akan dihadapi apabila para guru tetap mempertahankan gaya hidup yang konsumtif. Mereka berpendapat bahwa peningkatan kesejahteraan tidak akan terwujud jika masalah ini tidak ditangani, meskipun pemerintah telah memberikan perhatian melalui tunjangan profesi.
Di kesempatan yang sama, ia juga menyoroti pentingnya program Kejar, yang bertujuan untuk mengedukasi siswa mengenai kebiasaan menabung sejak dini. Program ini diharapkan dapat mempersiapkan mereka untuk mengelola keuangan dengan lebih baik. Suryanto menjelaskan, "Menabung bukan sekadar mengelola uang, tetapi juga merupakan cara untuk mengajarkan kedisiplinan."
Dalam konteks yang lebih luas, Kepala OJK Sumbar, Roni Nazra, menekankan arti penting peringatan Hari Indonesia Menabung sebagai langkah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat di Sumbar tentang pentingnya menabung sejak usia dini.
Berdasarkan hasil survei nasional yang dilakukan oleh OJK dan Badan Pusat Statistik, indeks inklusi keuangan di Indonesia mencapai 75,02 persen, sementara indeks literasi keuangan berada pada angka 65,43 persen. Roni Nazra menjelaskan, "Ini berarti dari 100 orang di Indonesia, 75 orang sudah menggunakan produk keuangan seperti tabungan, deposito, dan asuransi."
Namun, hasil yang sama menunjukkan hanya 65 dari 100 orang yang memahami produk jasa keuangan. Hal ini menunjukkan masih adanya tantangan besar dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap literasi dan inklusi keuangan di Indonesia.
ANTARA
Guru di Sumbar Terjebak Utang akibat Perilaku Konsumtif Berlebih
Bagikan:

PADANG –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Seorang Pria Meninggal Dunia Saat Salat Jum'at di Masjid Al Hidayah Banjarmasin
Bayi Laki-Laki Ditemukan di Pelataran Musala di Kotabaru
Warga Kasongan Dihebohkan Penemuan Mayat Membusuk di Parit Jalan DI Panjaitan
Topan Champi Ancam Taiwan, Sekolah dan Perkantoran Ditutup di 20 Wilayah
Distribusi Masih Jadi Hambatan, Industri Komik Indonesia Dinilai Punya Potensi Besar
Iran Ancam Gunakan Taktik Baru jika AS Kembali Lancarkan Serangan
Komentar (0)
Memuat komentar…







