BORNEONEWS, Sampit - Sebanyak 50 lembar tiket palsu berhasil diamankan jajaran Polsek Kawasan Pelabuhan Mentaya (KPM), terhadap dua orang korban saat hendak mudik di Pelabuhan Sampit, Kabupaten Kotawaringin timur (Kotim) Minggu (3/7/2016).

Puluhan tiket itu didapat dari Muhammad Saifudin sebanyak 49 lembar, dan milik penumpang bernama Susi sebanyak satu lembar.

“Kami barus berhasil menyita tiket palsunya saja, sedangkan penyebarnya belum berhasil ditemukan,” ujar Kapolsek KPM AKP Rizki Hidayat, Minggu (3/7/2016).

Semua tiket palsu tersebut merupakan keberangkatan kapal dari Darma Lautan Utama (DLU). Korban membeli tiket dengan harga Rp380 ribu. Sehingga bagi Saifudin, hal itu membuat ia harus merugi hingga Rp14 juta, karena dia berpikir saat itu bahwa tiket tersebut dapat dijualnya kembali, padahal kenyataannya tidak bisa. Sedangkan bagi Susi, ia harus gagal mudik karena tidak kebagian tiket lagi.

“Saat ini kami masih mencari pelaku utama dari penjualan tiket palsu ini, karena yang berhasil kami temukan saat ini hanyalah korban saja,” lanjut Rizki.  

Sedangkan dari keterangan korban bernama Saifudin, pelaku saat itu mengaku bahwa ia adalah perwakilan DLU dari kantor pusat Jakarta. Dia sengaja datang ketempat ini untuk membantu pihak pelayaran dalam menjual tiket. Sehingga hal itu membuat korban langsung percaya, dan membeli sebanyak 50 lembar, dengan maksud untuk dijual kembali kepada para calon pemudik yang tidak memiliki tiket.

Namun bukannya dapat untung, Saifudin malah harus merugi Rp14 juta, karena tiket tersbeut palsu. Hal itu diketahui, setelah Susi yang hendak berangkat mudik ke Pulau Jawa langsung dicegat petugas pelabuhan karena tiket palsu itu sangat berbeda dengan tiket kapal yang asli. Terutama di nomor seri, data penumpang yang hanya ditulis menggunakan bolpoin dan pensil, serta sampul sangat buram.

Setelah mengetahui hal itu, polisi kini terfokus pada pelaku utama yang diperkirakan ada hubungannya dengan para calon penumpang kapal di Pelabuhan Kumai yang juga menjadi korban tiket palsu.

“Iya sepertinya ini hanya satu jaringan dengan pengedar di Pangkalan Bun, sehingga sangat terorganisir dan susah untuk mencarinya. Apalagi ciri-ciri masih sangat samar-samar," ungkap Rizki. (M HAMIM/m)