**Borneonews - Jakarta**, Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia akan diperluas pada tahun 2025, dengan target khusus untuk ibu hamil, ibu menyusui, serta anak balita. Hal ini diungkapkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Dalam rapat pleno yang diadakan oleh Dewan Perwakilan Rakyat pada hari Selasa, beliau menjelaskan bahwa program ini bertujuan untuk meningkatkan hasil gizi, mendukung perkembangan kognitif, serta mencegah terjadinya stunting pada anak-anak. Pemerintah Indonesia telah mengalokasikan dana sekitar Rp197,8 triliun (setara dengan US$12 miliar) untuk sektor kesehatan, dengan prioritas pada upaya pencegahan stunting. Selama kurun waktu sepuluh tahun terakhir, prevalensi stunting di Indonesia berhasil diturunkan dari 37,2 persen menjadi 21,5 persen. Meskipun demikian, Indrawati menekankan pentingnya meningkatkan kecepatan pencapaian target ini. “Intervensi stunting di daerah kami fokus pada 12 provinsi prioritas, dengan penekanan pada upaya pencegahan selama periode kritis 1.000 hari pertama kehidupan,” ujarnya. Catatan Keuangan 2025 menjelaskan bahwa tujuan dari Program MBG adalah membentuk tenaga kerja yang berkualitas dan kompetitif. Program ini akan menyediakan makanan bergizi dan susu gratis di sekolah-sekolah, serta memberikan bantuan nutrisi kepada balita, ibu hamil, dan ibu menyusui yang berisiko mengalami stunting. Diharapkan, hal ini akan berdampak positif pada kehadiran siswa di sekolah dan hasil pembelajaran mereka. Pelaksanaan Program MBG akan dilakukan melalui dapur umum, dengan melibatkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat. Dengan anggaran yang mencapai sekitar Rp71 triliun (sekitar US$4,4 miliar), atau 0,29 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, program ini mencakup pengeluaran untuk biaya makanan, distribusi, serta biaya operasional. Selain itu, program ini juga diprediksi dapat menciptakan efek ekonomi yang berganda. Lebih dari sekadar meningkatkan kualitas sumber daya manusia, Program MBG diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sekitar 0,10 persen dan menciptakan sekitar 0,82 juta lapangan kerja melalui pemberdayaan UMKM. ANTARA