BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Banyak agen tiket yang mengeluhkan kebijakan penjualan maksimal tiket kapal laut dari PT Pelni dan PT Dharma Lautan Utama (DLU). Pengambilan keuntungan Rp10 ribu pert iket oleh pihak agen begitu memberatkan. Jumlah itu tidak cukup untuk menutupi biaya operasional agen tiket.
"Kalau dilebihkan ya Rp10 ribu sesuai kebijakan pihak PT Pelni, mau gaji pegawai dari mana," kata pemilik Agen Tiket Aloha, Rusmin Aryadi, baru-baru ini.
Ia terpaksa melanggar aturan yang diterapkan PT Pelni untuk mengambil keuntungan dari satu tiket
Kasus yang sama pun dilakukan agen tiket lainnya tang berada tak jauh dari pelabuhan Panglima Utar Kumai. Agen Tiket Lima Saudara. Pemilik agen tersebut berani membeli satu tiket kapal KM Dharma Ferry rute Kumai - Semarang Sabtu (2/7/2016) seharga Rp265 ribu. Mereka menjualnya lagi Rp450 ribu.
"Harga tiket Dharma Ferry ke Semarang hari ini, Sabtu (2/7/2016) Rp450 ribu," kata pegawai tiket Agne Lima Saudara saat ditanya Bornenews berapa harga tiket tersebut.
Dari harga itu, pantas saja, agen tersebut berani membeli Rp265 ribu dari satu tiket yang sengaja dijual kembali oleh salah satu calon penumpang KM Dharma Ferry Vlll bernama Suhud. Meski tiket tersebut sudah tertera nama Suhud, namun pihak agen nekat berani membeli kembali untuk dijual kepada calon penumpang yang lain.
"Karena tiket di sini sudah habis, calon pembeli masih banyak," kata petugas tersebut
Lalu mana janji pihak pelayaran, pihak pelabuhan yang akan menindak tegas penumpang yang memiliki tiket tak aesuai dengan identitas aslinya? Alasan kemanusiaan menjadi dasar pihak terkait meloloskan para penumpang ke dalam kapal. Padahal tindakan kemanusiaan tersebut malah memperlancar aksi pencaloan dan aksi permainan harga di luaran sana.
"Ya, mungkin sisi kemanusiaan masih ada. Kan kasihan, penumpang adalah korban. Sudah membeli tiket mahal, berdesak-desakan, bawa barang banyak ditambah jarak tempuh dari rumahnya jauh, sampai sini tidak diperbolehkan berangkat karena namanya tak sesuai dengan tiket," kata petugas Pelindo yang enggan disebut namanya. (CECEP HERDI/m)








