JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta** Sekolah eskalator selama 12 tahun merupakan suatu model pendidikan yang dirancang untuk menyatukan jenjang pendidikan dasar dan menengah, yaitu Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA) dalam satu sistem pendidikan yang berkelanjutan. Dalam sistem ini, siswa yang terdaftar akan menjalani proses pembelajaran selama 12 tahun tanpa perlu melewati ujian seleksi untuk dapat berpindah ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Tujuan utama dari konsep sekolah eskalator ini adalah untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih minimal stres, serta mengurangi tekanan yang dialami siswa akibat ujian masuk. Dengan demikian, sekolah dapat lebih leluasa dalam mengembangkan kurikulum yang terintegrasi dan lebih mendalam. Implementasi sekolah eskalator selama 12 tahun di Indonesia menawarkan potensi yang signifikan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Hal ini terutama berkaitan dengan pengurangan tekanan ujian yang biasanya merupakan beban bagi siswa, serta memberi ruang yang lebih besar untuk pengembangan bakat siswa. Meskipun penelitian mengenai penerapan konsep ini di Indonesia masih diperlukan, pengalaman positif dari negara lain menunjukkan bahwa model ini bisa memberikan dampak yang bermanfaat. Negara-negara seperti Finlandia telah berhasil menerapkan konsep serupa, dengan model sekolah eskalator selama 9 tahun. Dalam sistem pendidikan mereka, siswa tidak diharuskan mengikuti ujian nasional sampai menyelesaikan pendidikan menengah atas, sehingga memungkinkan mereka untuk fokus pada pembelajaran mendalam dan pengembangan keterampilan. Begitu juga dengan Singapura, yang memanfaatkan sistem sekolah eskalator selama 6 tahun dan berhasil menghubungkan pendidikan dasar dengan pendidikan menengah tanpa perlu ujian seleksi. Hal ini berkontribusi signifikan terhadap prestasi akademik tinggi di negara tersebut. Penerapan sekolah eskalator 12 tahun di Indonesia berpotensi memberikan solusi terhadap berbagai tantangan yang ada dalam sistem pendidikan saat ini. Model ini dapat meningkatkan fokus belajar siswa dan mengurangi stres akibat ujian. Ujian untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikut sering menjadi pemicu kecemasan bagi siswa dan orang tua. Dengan adanya sekolah eskalator, diharapkan dapat mengurangi beban ini sehingga siswa dapat lebih terfokus dalam belajar. Selain itu, pengembangan kurikulum yang lebih terintegrasi juga menjadi keuntungan dari model ini. Sekolah eskalator memungkinkan kurikulum yang lebih komprehensif, sehingga siswa dapat memahami materi belajar dengan lebih baik. Model pendidikan ini memberikan ruang lebih bagi siswa untuk mengeksplorasi serta mengembangkan bakat dan minat di beragam bidang, yang pada gilirannya akan mendukung pertumbuhan potensi mereka. Meskipun belum ada data spesifik yang menunjukkan dampak dari sekolah eskalator 12 tahun di Indonesia, beberapa penelitian mendukung manfaat dari model pendidikan yang serupa. Salah satunya, sebuah studi dari *Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD)*, menunjukkan bahwa negara-negara dengan pendidikan terintegrasi cenderung memiliki prestasi siswa yang lebih baik. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa pengurangan tekanan ujian dapat meningkatkan motivasi belajar dan menurunkan tingkat kecemasan di kalangan siswa. Dalam konteks Indonesia, pengembangan sekolah eskalator sudah mulai dilakukan, salah satunya melalui inisiatif Yayasan Pendidikan Astra - Michael D. Ruslim (YPA-MDR) di berbagai daerah yang tertinggal, yang dikenal dengan sebutan tiga T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Program ini dikerjakan dalam kolaborasi dengan pemerintah daerah setempat dan juga melibatkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat, kepala sekolah, guru, komite sekolah, dan orang tua siswa. Salah satu lokasi percontohan adalah Kabupaten Serang di Banten, di mana Program Bantuan Pendidikan Untuk Sekolah dilaksanakan dengan melakukan pembinaan di enam sekolah dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan agar menjadi mandiri dan unggul melalui konsep sekolah eskalator 12 tahun. Fokus dari program ini adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang sejalan dengan upaya Pemerintah Kabupaten Serang dalam memajukan sumber daya manusia di daerah tersebut. Program pembinaan ini, yang didukung oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Serang, dijalankan di enam sekolah negeri tingkat SD, yaitu SDN Maja, SDN Gorda 2, SDN Kosambi, SDN Rancailat, SDN Koper 2, dan SDN Songgom Jaya. Proses ini menerapkan pendidikan berkelanjutan melalui metode Sekolah Eskalator 12 Tahun, yang bertujuan untuk meningkatkan potensi sekolah agar mampu berkembang menjadi sekolah yang mandiri dan unggul. Program ini mencakup dukungan dalam penyediaan fasilitas belajar, kegiatan seni, serta pelatihan untuk meningkatkan kompetensi guru dan staf pendidikan, yang dilengkapi dengan pendampingan intensif untuk mencapai status sekolah mandiri yang unggul dan berwawasan global. Semua upaya ini bertujuan untuk membangun Indonesia yang cerdas, melalui pemberdayaan kepala sekolah dan guru, serta meningkatkan pendidikan di wilayah-wilayah yang tertinggal dan strategis. Dengan program ini, sudah terdapat 22 sekolah negeri yang terbina di Provinsi Banten, termasuk di Kabupaten Serang, 13 sekolah di daerah Lebak, serta 3 sekolah di Tangerang. Kegiatan pembinaan ini juga sejalan dengan program pemerintah untuk menciptakan generasi muda yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang baik, bekal keterampilan hidup, serta kepedulian terhadap seni dan budaya lokal, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi daerah. Dalam pelaksanaannya, pembinaan mengikuti tahapan selama lima tahun yang berfokus pada empat pilar utama: Karakter, Akademik, Kecakapan Hidup, dan Seni Budaya, yang semuanya diterapkan dalam *Kurikulum Merdeka*. Ini termasuk pembelajaran intrakurikuler beragam berupa pelatihan dan pendampingan intensif. Dengan semakin banyaknya Kecamatan Cikande yang terlibat, hingga saat ini sudah tercatat 167 sekolah yang telah dibina. Antara lain, 119 SD, 32 SMP, dan 15 SMK/SMA, menjangkau lebih dari 2.500 guru dan 34.700 siswa di 8 provinsi dan 17 kabupaten, seperti Bogor, Gunungkidul, Bantul, Lampung Selatan, Pacitan, Serang, Kupang, Rote Ndao, Kapuas, Barito Utara, Tangerang, Majalengka, Manggarai Timur, Penajam Paser Utara, Lebak, Sumba Timur, dan Kutai Barat. Ke depan, sangat diharapkan adanya peran aktif dari berbagai pihak, termasuk sektor swasta, sebagai agen perubahan dan pengembangan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Hal ini penting demi membantu pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas, perbaikan kurikulum dan manajemen sekolah, serta penyediaan sarana dan prasarana pendidikan sesuai dengan standar mutu pendidikan nasional. ANTARA