BANGKA BELITUNG –
**Borneonews - Pangkalpinang**, Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) mengungkapkan bahwa pernikahan dini di wilayah tersebut banyak melibatkan pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP). Hal ini ditengarai oleh pergaulan yang tidak sehat di kalangan remaja. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Kependudukan, Pencatatan Sipil, dan Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana (DP3AKKB) Kepulauan Babel, Asraf Suryadin, menjelaskan bahwa pihaknya saat ini memfokuskan upaya sosialisasi kepada siswa-siswi SMP untuk menekan angka pernikahan dini dan kekerasan terhadap anak. Menurut data yang dihimpun oleh DP3AKKB, dari keseluruhan 100 kasus pernikahan dini dan tindak kekerasan terhadap anak, sebagian besar di antaranya melibatkan pelajar SMP. Hal ini menunjukkan perlunya kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan masyarakat luas untuk mengatasi permasalahan ini di Negeri Serumpun Sebalai. Asraf menambahkan, banyak kasus pernikahan anak disebabkan oleh hubungan intim di kalangan remaja yang tidak seharusnya terjadi. Akibatnya, banyak anak-anak yang terjebak dalam situasi pernikahan dini seringkali tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi karena perasaan malu atau berbagai alasan lainnya. Ia juga menyatakan harapannya agar mereka yang terlibat dalam pernikahan usia dini tetap dapat melanjutkan pendidikan. "Jangan sampai anak-anak ini terpaksa putus sekolah akibat kejadian yang tidak diinginkan," ungkapnya. Pihaknya terus berupaya mendorong anak-anak yang terjebak dalam pernikahan dini untuk tetap melanjutkan pendidikan. Jika mereka tidak dapat bersekolah di institusi formal, Asraf menekankan pentingnya akses ke pendidikan non-formal, seperti sekolah paket, agar anak-anak tersebut tetap mendapatkan kesempatan belajar dan berkembang di masa depan. ANTARA