JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Direktur Eksekutif *Institute Essential for Services Reform* (IESR), Fabby Tumiwa, mengungkapkan bahwa transisi energi dari sumber fosil menuju energi yang lebih bersih memiliki potensi signifikan dalam menciptakan lapangan kerja baru. Dalam keterangan pers yang dilaksanakan secara daring, Fabby menekankan bahwa meskipun sektor energi fosil mengalami penurunan jumlah lapangan kerja secara bertahap, akan muncul peluang kerja baru dari perkembangan industri energi bersih. Ia melanjutkan dengan menyatakan bahwa selama sepuluh tahun terakhir, investasi di industri energi fosil menunjukkan penurunan yang steady. Hal ini memberikan ruang bagi pengembangan energi baru terbarukan (EBT) semakin terbuka lebar. Dengan demikian, ada kemungkinan untuk mengembangkan lebih banyak lapangan pekerjaan dalam industri energi bersih. Menurut kajian yang dilakukan oleh IESR, potensi energi terbarukan yang berbasis tenaga surya sangat besar, diperkirakan mencapai sekitar 20.000 gigawatt. Dengan memanfaatkan potensi tersebut sebagai salah satu pilar utama energi di Indonesia, transisi menuju nol emisi karbon dapat dipercepat. Salah satu langkah penting adalah menghentikan operasi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang tidak dilengkapi dengan teknologi penangkap karbon sebelum tahun 2050. Langkah ini diharapkan dapat menciptakan banyak kesempatan kerja, terutama bagi generasi muda di sektor energi bersih. Proyeksi menunjukkan bahwa hingga 3,2 juta posisi kerja dalam sektor ini mungkin dapat terisi pada tahun 2050. Dari jumlah tersebut, sekitar 1,2 juta di antaranya diperkirakan akan berasal dari pekerjaan yang memerlukan keterampilan teknis. Penelitian yang dilakukan oleh IESR menunjukkan hal yang serupa, bahwa transisi energi diperkirakan akan menciptakan lebih banyak lapangan kerja dibandingkan yang ada saat ini. Pergeseran ini akan fokus pada industri energi bersih, yang mencakup teknologi pembangkit listrik tenaga uap, pembangkit listrik tenaga angin, serta pemanfaatan bioenergi. Meskipun demikian, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah kebutuhan akan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan dan keahlian tepat di bidang energi baru terbarukan. Hal ini mencakup pemahaman teknis maupun non-teknis, serta pentingnya sertifikasi kompetensi terkait EBT. Fabby juga menyoroti pentingnya pemerataan dalam kualitas pendidikan vokasi, termasuk guru dan fasilitas pendidikan yang relevan di Indonesia. Ia berharap pemerintah dapat menghadirkan pendidikan vokasi yang mengajarkan aspek-aspek terkait EBT, serta menyediakan pelatihan yang berkelanjutan untuk pengembangan sumber daya manusia. "Oleh karena itu, penting bagi individu tidak hanya untuk mengikuti pendidikan formal tetapi juga untuk memperoleh keterampilan yang dapat memenuhi kebutuhan di dunia usaha," tutupnya. ANTARA