JAKARTA –
**Borneonews - Moskow**, Badan pertahanan kimia militer Rusia baru-baru ini mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan bahwa pasukan Ukraina tengah mendapatkan pelatihan khusus untuk menggunakan amunisi kimia. Pelatihan ini dilaksanakan dengan menggunakan sistem persenjataan yang berasal dari Barat. Letnan Jenderal Igor Kirillov, yang menjabat sebagai Kepala Pasukan Pertahanan Radiologi, Kimia, dan Biologi Angkatan Bersenjata Rusia, menegaskan bahwa informasi yang diperoleh menunjukkan bahwa ada pengajaran mengenai penggunaan amunisi kimia dalam konteks artileri yang digerakkan oleh senjata dari Barat. Ia juga menyoroti bahwa dokumentasi yang ditemukan di lokasi-lokasi Ukraina yang ditinggalkan adalah panduan metodologis yang berhubungan dengan penggunaan amunisi artileri yang mengandung bahan kimia. Kirillov menambahkan bahwa Rusia sudah menyampaikan bukti-bukti pelanggaran yang dilakukan oleh Ukraina terhadap Konvensi Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (*Chemical Weapons Convention*) kepada sekretariat teknis organisasi tersebut. Namun, hingga saat ini, Rusia belum menerima suatu tanggapan resmi terkait laporan tersebut. Lebih lanjut, Rusia mengklaim memiliki bukti kuat yang menunjukkan bahwa Ukraina telah mengimpor sekitar 500 ton Triethanolamine, suatu zat yang berpotensi digunakan dalam pembuatan senjata kimia, termasuk mustard nitrogen yang dikenal sebagai bahan yang sangat iritatif. Selain itu, pasukan Rusia juga melaporkan bahwa mereka menemukan senyawa yang mengandung talium nitrat yang beracun di dalam gudang senjata yang dikuasai oleh Ukraina. Situasi ini menunjukkan semakin kompleksnya ketegangan antara Rusia dan Ukraina, di mana isu penggunaan senjata kimia menjadi sorotan di arena internasional. ANTARA