JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa kementeriannya telah menyusun tiga langkah strategis untuk menekan jumlah impor minyak dan gas (migas) nasional. Langkah ini diambil mengingat potensi sumber daya mineral yang dimiliki Indonesia masih tergolong besar dan belum sepenuhnya dimanfaatkan. Dalam pernyataannya di Jakarta, Bahlil menyampaikan bahwa strategi yang dimaksud meliputi optimalisasi produksi minyak dengan penerapan teknologi, reaktivasi sumur-sumur yang saat ini tidak beroperasi, serta eksplorasi migas di kawasan Indonesia Timur. Upaya ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap migas impor. Bahlil menjelaskan bahwa saat ini total produksi minyak Indonesia mencapai angka 221 juta barel per tahun. Namun, di sisi lain, Indonesia masih melakukan impor sebanyak 297 juta barel, yang terdiri dari 129 juta barel dalam bentuk minyak mentah dan 168 juta barel dalam bentuk bahan bakar minyak (BBM). Salah satu contoh dari penerapan teknologi dalam optimalisasi produksi adalah proyek di Banyu Urip, Surabaya, yang dikerjakan oleh perusahaan ExxonMobil. Proyek ini diharapkan dapat meningkatkan lifting minyak dari 90-100 ribu *Barrel Oil per Day* (BOPD) menjadi antara 140-160 ribu BOPD. Dalam konteks reaktivasi sumur menyusut, Bahlil mencatat bahwa terdapat sekitar 44.985 sumur migas di seluruh Indonesia, dengan 16.990 di antaranya tergolong sebagai *idle well*. Namun, tidak semua sumur ini memiliki potensi untuk direaktivasi. Hal ini disebabkan oleh sejumlah faktor, termasuk kurangnya potensi *subsurface*, kondisi keekonomian yang tidak memungkinkan akibat biaya reaktivasi yang tinggi, serta dinamika harga minyak mentah global yang fluktuatif. Selain itu, faktor keselamatan dan kesehatan kerja (HSE) serta aspek non-teknis juga berpengaruh terhadap keputusan ini. Lebih lanjut, dalam upaya eksplorasi migas di kawasan Indonesia Timur, kementerian akan memfokuskan perhatian pada daerah-daerah strategis, antara lain Seram, Buton, Laut Aru-Arafura, Warim, dan Timor. Bahlil menegaskan bahwa fokus saat ini adalah kawasan-kawasan timur Indonesia, di mana sejumlah blok memiliki potensi yang cukup baik untuk dikembangkan. ANTARA