JAKARTA –
**Borneonews - Surabaya**, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur berencana untuk melakukan penelitian DNA terhadap kerangka manusia yang ditemukan di Candi Kedaton. Penelitian ini merupakan bagian dari upaya untuk menggali lebih dalam mengenai kehidupan masyarakat pada zaman Kerajaan Majapahit, yang memiliki peranan penting dalam sejarah Indonesia. Kepala BPK Wilayah XI, Endah Budi Haryani, menjelaskan bahwa dengan mengungkap informasi dari kerangka yang ditemukan, mereka berharap dapat membangun narasi sejarah Majapahit secara lebih komprehensif. "Tidak hanya tinggalan budayanya, tetapi juga informasi tentang kehidupan orang-orang yang hidup pada masa itu," tuturnya saat berbicara kepada lebih dari seratus mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan penanaman pohon di Situs Trowulan, yang dikenal sebagai ibu kota Kerajaan Majapahit. Endah mengungkapkan bahwa pihaknya telah berkolaborasi dengan Prof. Dr. Toetik Koesbardiat, seorang ahli *paleoantropologi* dari Universitas Airlangga. Kerja sama ini bertujuan untuk mengidentifikasi lebih lanjut mengenai kehidupan manusia berdasarkan penemuan kerangka, termasuk melakukan analisis DNA guna mendapatkan wawasan tentang latar belakang demografis dan sosial mereka. Pentingnya pengungkapan kehidupan masyarakat Majapahit menjadi fokus utama, mengingat masyarakat saat itu memiliki hubungan yang harmonis dengan alam. Mereka menyadari pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan, dan ini tercermin dalam berbagai prasasti yang ditinggalkan oleh Kerajaan Majapahit, termasuk perintah raja untuk melestarikan alam. Prof. Toetik, yang berbicara dalam sebuah sesi pengukuhan sebagai guru besar di Universitas Airlangga, menegaskan bahwa kerangka manusia tidak hanya sekadar sisa-sisa fisik, melainkan sumber informasi berharga mengenai kehidupan dan kebiasaan orang-orang di masa lalu. Ia menjelaskan, "Dengan 'mendengarkan' apa yang dapat diceritakan oleh si mati, saya dapat mengenali mereka dan memahami perjalanan hidupnya.” Penemuan kerangka ini berasal dari pemugaran Candi Kedaton pada tahun 1996, di mana terdapat satu nisan dan empat makam yang berisi kerangka manusia. Masyarakat setempat mempercayai bahwa makam tersebut milik Dewi Murni, Dewi Pandansari, serta dua tokoh lain, Wahita dan Puyengan, yang dikenal sebagai istri dari Damarwulan, raja Brawijaya VI. Lebih lanjut, catatan yang terukir di dinding Candi Kedaton menunjukkan bahwa selama penggalian arkeologis di sekitar struktur sumur Upas, ditemukan satu kerangka manusia yang dikebumikan dengan cara yang unik, yaitu menggunakan bata tanpa penggalian. Selain itu, empat kerangka lainnya ditemukan dalam struktur yang berbeda, di mana proses penguburan dilakukan dengan cara membongkar dan menggali Candi Kedaton. Menariknya, ukuran kerangka-kerangka ini menunjukkan bahwa tinggi badan mereka mencapai sekitar dua meter, yang dapat dianggap di atas rata-rata tinggi orang Jawa pada umumnya. Penelitian partisipatif ini diharapkan dapat memberikan wawasan lebih lanjut tentang warisan sejarah yang kaya dari Kerajaan Majapahit. ANTARA