MATARAM –
**Borneonews - Bima, Nusa Tenggara Barat**, Pemerintah Kabupaten Bima saat ini sedang memusatkan perhatian pada upaya penanganan penyebaran virus rabies. Situasi ini dianggap krusial, mengingat rabies merupakan masalah kesehatan yang memerlukan kerjasama dan perhatian dari seluruh elemen nasional serta daerah. Sekretaris Daerah Kabupaten Bima, Adel Linggi Ardi, menyampaikan hal ini dalam sebuah rapat evaluasi mengenai penanganan Hewan Penular Rabies (HPR) yang berlangsung di Bima. Dalam pertemuan tersebut, dibahas berbagai aspek terkait koordinasi penanganan gigitan hewan serta perkembangan laporan dari organisasi perangkat daerah (OPD) yang terlibat. Adel menekankan pentingnya Dinas Peternakan untuk melakukan pendataan menyeluruh terhadap individu dan hewan ternak yang berpotensi terkena gigitan anjing. Hal ini dikarenakan adanya risiko penularan rabies melalui gigitan tersebut. Ia juga menyoroti perlunya deteksi dini guna meminimalisir penyebaran virus ini lebih lanjut. Lebih lanjut, Joko Agus Guyanto, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Bima, menginformasikan bahwa pihaknya memiliki target vaksinasi sebanyak 70 ribu hewan, dengan realisasi vaksinasi mencapai 10 ribu ekor anjing. Vaksinasi ini diharapkan dapat berkontribusi pada pencegahan kasus rabies yang lebih luas. Joko menambahkan bahwa pencapaian target vaksinasi memerlukan alokasi dosis vaksin yang lebih banyak. Pada sisi lain, pihaknya juga telah melakukan pemetaan serta pengambilan sampel otak dari anjing-anjing yang dicurigai terjangkit rabies untuk diperiksa di Laboratorium Kesehatan Hewan di Denpasar. Terkait penanganan anjing yang menunjukkan gejala gila, petugas kesehatan di seluruh kecamatan telah mengimplementasikan berbagai langkah untuk meningkatkan kapasitas dalam mengatasi kasus gigitan dari anjing liar, guna melindungi masyarakat dari potensi penyebaran rabies yang lebih luas. ANTARA