JAMBI –
**Borneonews - Jambi**, Badan Pusat Statistik (BPS) menekankan pentingnya pemanfaatan sektor primer secara berkelanjutan di setiap provinsi, sekaligus mempersiapkan sektor sekunder dan tersier agar dapat berperan sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi di wilayah Sumatera. Mohammad Edy Mahmud, Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS RI, mengungkapkan bahwa struktur ekonomi di kawasan Sumatera masih sangat bergantung pada sektor pertanian. Di samping itu, sektor industri pengolahan, perdagangan, konstruksi, serta pertambangan dan gas juga berkontribusi signifikan terhadap perekonomian daerah ini. Dari segi permintaan, pertumbuhan ekonomi Sumatera didorong oleh konsumsi rumah tangga yang mencapai lebih dari 50 persen, pembentukan modal tetap bruto (PMTB), serta ekspor. Edy menekankan pentingnya perhatian terhadap isu-isu dan potensi yang ada di daerah, mempertimbangkan berbagai sumber daya alam yang melimpah, termasuk pertanian, perkebunan, perikanan, serta sektor pertambangan dan gas. Dia mencatat bahwa sekitar 50 hingga 70 persen pasokan karet, kopi, dan kelapa sawit berasal dari Sumatera, yang menunjukkan potensi besar yang bisa dimanfaatkan dengan kebijakan yang tepat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut. Pernyataan ini disampaikan dalam acara Konsultasi Regional Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan Indikator Sosial Ekonomi (ISE) Se-Sumatera 2024 yang berlangsung di Jambi. Edy juga mengidentifikasi isu lain yang berkaitan dengan ekonomi di Sumatera, yaitu bahwa kawasan industri dan ekonomi belum beroperasi secara optimal. Hal ini menjadi tantangan besar bagi komoditas unggulan yang nilai tambahnya masih rendah. Oleh karena itu, perlu dilakukan peningkatan nilai tambah melalui program hilirisasi dan pengembangan sektor pertanian serta industri manufaktur. Ia menekankan bahwa untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Sumatera, dukungan terhadap infrastruktur menjadi sangat krusial untuk memperkuat konektivitas antar kawasan. Dengan pengembangan yang berfokus pada pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, diharapkan setiap provinsi di Sumatera dapat meningkatkan pertumbuhan ekonominya, mengurangi kemiskinan, serta memastikan masa depan yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat. Edy juga menekankan bahwa keberhasilan implementasi kebijakan nasional yang efektif sangat tergantung pada kebijakan di tingkat regional. Untuk itu, pengumpulan data dan analisis kebijakan yang lebih baik di tingkat daerah, serta koordinasi yang lebih efektif antar daerah sangat diperlukan untuk meningkatkan efektivitas kebijakan yang diterapkan. ANTARA