JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Dokter dan ahli gizi masyarakat, dr. Tan Shot Yen, mengungkapkan keraguan mengenai penggunaan susu dalam Program Makan Bergizi Gratis. Dalam sebuah acara media talk yang berlangsung pada hari Selasa, ia mempertanyakan, "Mengapa harus ada susu dalam program ini?" Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons terhadap pedoman dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 41 Tahun 2014, yang dianggapnya sudah tidak relevan dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat saat ini. "Kita sudah meninggalkan konsep empat sehat lima sempurna yang sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi terkini," lanjutnya. Satu poin penting yang diangkat dr. Tan adalah tingginya prevalensi intoleransi laktosa di kalangan masyarakat Asia Tenggara. Ia menyatakan bahwa lebih dari 80 persen individu di kawasan ini mengalami intoleransi terhadap laktosa. "Pikirkanlah, siapa di antara kita yang mengonsumsi produk berbahan susu dan mengalami gangguan pencernaan seperti diare, kembung, atau mual? Hal ini menunjukkan ketidaksesuaian pemberian susu kepada masyarakat yang secara genetik rentan terhadap kondisi tersebut," tambahnya. Lebih lanjut, dr. Tan mengkhawatirkan bahwa penyerahan susu, terutama yang memiliki rasa manis, dapat mengganggu tujuan gizi anak-anak. "Ada risiko tinggi untuk terjadinya manipulasi rasa dan kandungan gizi. Pada akhirnya, kita justru melakukan sabotase terhadap upaya meningkatkan kualitas gizi anak. Yang terjadi, anak-anak hanya akan memilih susu sambil meninggalkan makanan lain yang lebih bergizi," ujarnya. Dalam Buku II Nota Keuangan Tahun Anggaran 2025, dinyatakan bahwa Program Makan Bergizi Gratis dirancang untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing. Program ini dilaksanakan melalui penyediaan makanan bergizi dan susu gratis di sekolah-sekolah dan pesantren, serta bantuan gizi bagi anak-anak balita dan ibu hamil atau menyusui yang berisiko mengalami stunting. Target utama dari Program Makan Bergizi Gratis adalah untuk meningkatkan nutrisi anak-anak sekaligus mendorong kehadiran mereka di sekolah. Kehadiran yang meningkat diharapkan akan berkontribusi terhadap kualitas pembelajaran yang lebih baik. Selain itu, program ini juga ditujukan untuk mengurangi angka absensi dan risiko putus sekolah, yang pada gilirannya berdampak positif terhadap kesehatan dan prestasi akademis siswa. ANTARA