JAKARTA –
**Borneonews - Ternate, Maluku Utara**, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, mengusulkan pilihan untuk merelokasi penduduk yang terdampak oleh bencana banjir bandang di Kelurahan Rua, Ternate. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa proses relokasi ini masih akan dianalisis secara menyeluruh dengan melibatkan Pemerintah Kota Ternate, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta lembaga terkait lainnya. Muhadjir menjelaskan, hasil peninjauan di lokasi bencana yang dilakukan pada siang hari ini bersama Kepala BNPB, Suharyanto, menunjukkan bahwa keselamatan warga di Kelurahan Rua harus menjadi perhatian utama bagi pemerintah dalam merencanakan relokasi. Sejarah wilayah ini, yang selama ratusan tahun menjadi jalur aliran air dan tempat penumpukan sedimen material vulkanik dari Gunung Gamalama, menambah urgensi bagi pemerintah untuk menetapkan area tersebut sebagai zona non-permukiman. Di sisi lain, Muhadjir juga menegaskan komitmen pemerintah pusat dalam mendukung seluruh langkah penanganan bencana, mulai dari fase tanggap darurat hingga pemulihan pasca-bencana. Ia menekankan bahwa kesejahteraan masyarakat adalah prioritas utama dalam setiap tindakan yang diambil. Untuk mendukung proses penanganan dan pemulihan dampak bencana, pemerintah pusat telah mengalokasikan dana siap pakai BNPB sebesar Rp1,1 miliar. Anggaran ini ditujukan kepada Pemerintah Kota Ternate, Kodim 1051/Ternate, Korem 152, dan Polres Kota Ternate. Selain itu, terdapat alokasi sebesar Rp250 juta yang akan diberikan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maluku Utara. Dana bantuan ini diharapkan dapat mempercepat proses penanganan bagi para korban serta pemulihan infrastruktur yang rusak akibat bencana ini. Bencana banjir bandang yang melanda Kelurahan Rua terjadi pada hari Minggu, 25 Agustus, sekitar pukul 03.30 WIT. Banjir ini dipicu oleh hujan deras yang berlangsung dalam waktu lama. Akibatnya, catatan sementara dari tim Pusat Data dan Informasi BNPB mencatat bahwa sebanyak 18 orang meninggal dunia, delapan orang mengalami luka-luka, dan sekitar 185 warga terpaksa mengungsi. Banjir yang juga membawa lumpur, pasir, dan batuan dari Gunung Gamalama ini telah menyebabkan kerusakan parah, termasuk 25 rumah dan satu mushalla. Selain itu, kondisi ini juga mengakibatkan terputusnya akses jalan penghubung yang berfungsi penting bagi mobilitas masyarakat. ANTARA