JAKARTA –
**Borneonews - Beijing**, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menyatakan bahwa langkah proteksionis yang diambil oleh Kanada dengan merencanakan peningkatan tarif impor untuk mobil listrik (EV) dari negara tersebut hingga mencapai 100 persen, berpotensi mengganggu hubungan perdagangan antara kedua negara. Dalam sebuah konferensi pers yang berlangsung di Beijing, Lin mengungkapkan bahwa tindakan proteksionis tersebut dapat merugikan kepentingan perusahaan serta konsumen yang ada di Kanada. Selain itu, langkah ini tidak memberikan kontribusi positif terhadap upaya Kanada dalam melakukan transisi ke energi hijau, maupun dalam menghadapi tantangan perubahan iklim secara global. Pemerintah Kanada mengumumkan pada hari Senin bahwa mereka akan mengikuti langkah yang telah diambil oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa dalam mengenakan tarif impor 100 persen pada kendaraan listrik asal China, serta tambahan tarif 25 persen untuk baja dan aluminium dari Tiongkok. Pengenaan tarif baru ini direncanakan mulai berlaku pada 1 Oktober 2024 dan mencakup semua EV dari merek Tesla yang diproduksi di China. Lin Jian menekankan bahwa keputusan yang diambil oleh Kanada menunjukkan pengabaian terhadap fakta yang ada, serta kurangnya penghormatan terhadap aturan yang telah ditetapkan oleh *World Trade Organization* (WTO). Ia juga menyatakan penyesalan dan penolakan atas langkah ini yang bertentangan dengan tren historis dalam perdagangan. Ia lebih lanjut mengkritik penggunaan subsidi yang tidak menciptakan daya saing sejati di industri, serta mencatat bahwa proteksionisme tidak akan melindungi apapun selain memupuk keterbelakangan, yang pada akhirnya akan dibayar mahal di masa depan. Lin juga menegaskan bahwa perkembangan pesat industri EV di China adalah hasil inovasi teknologi yang berkelanjutan, dukungan rantai pasokan yang baik, serta adanya persaingan pasar yang sehat. Ia menyerukan kepada Kanada untuk menghormati kenyataan yang ada, mematuhi prinsip-prinsip WTO, serta segera memperbaiki kebijakan yang dinilai keliru dan menghindari politisasi terhadap masalah perdagangan. Dalam tanggapannya, Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau, menjelaskan bahwa tindakan tersebut diambil sebagai respons terhadap apa yang ia sebut sebagai "kebijakan kelebihan kapasitas yang disengaja" dari pemerintah China. Trudeau menambahkan bahwa Kanada akan terus bekerja sama dengan Amerika Serikat dan sekutu-sekutu lainnya untuk mencegah dampak dari “persaingan tidak adil” yang tidak sejalan dengan mekanisme pasar yang sehat seperti yang dituduhkan terhadap China. Selain itu, Trudeau mengungkapkan bahwa pemerintah Kanada juga mempertimbangkan langkah serupa untuk produk-produk seperti *chips* dan panel surya. Rencana tarif yang telah diumumkan ini akan dievaluasi satu tahun setelah dikenakan, dengan kemungkinan perpanjangan atau penambahan langkah-langkah terkait. Sebelumnya, Presiden AS, Joe Biden, pada bulan Mei 2024 mengumumkan akan menggandakan tarif untuk EV asal China menjadi 100 persen, serta mengenakan tarif sebesar 50 persen untuk semikonduktor dan panel surya, dan 25 persen untuk baterai ion-litium serta produk strategis lainnya, sebagai upaya melindungi industri domestik dari kelebihan produksi yang dihasilkan oleh China. Sementara itu, pada tanggal 20 Agustus 2024, Uni Eropa juga mengumumkan rencana untuk mengenakan bea impor selama lima tahun dengan maksimum tarif sebesar 36,3 persen pada EV yang berasal dari China, kecuali jika negara tersebut dapat memberikan solusi alternatif atas sengketa dagang yang berkaitan dengan subsidi. Laporan menunjukkan bahwa Kanada saat ini hanya mengenakan tarif impor yang relatif rendah, yaitu sebesar 6,1 persen terhadap kendaraan listrik dari China. Pada tahun 2023, volume impor EV dari China ke pelabuhan Vancouver, yang merupakan pelabuhan terbesar di Kanada, meningkat pesat menjadi 44.356 unit, mencatat lonjakan hingga 460 persen. ANTARA