JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) untuk periode 2025 hingga 2030 akan berfokus pada pengembangan kelancaran transaksi lintas batas atau *cross border transaction*. Hal ini disampaikan oleh Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti Salma, dalam acara Central Banking Services Festival 2024 yang berlangsung di Jakarta. Destry menjelaskan bahwa perluasan konektivitas pembayaran antarnegara tetap harus memperhatikan kepentingan nasional. Strategi ini akan mencakup pengembangan kerja sama *QRIS* antar negara serta interkoneksi sistem pembayaran baik di sektor ritel maupun wholesale. Menurutnya, interkoneksi lintas negara memerlukan kesiapan teknis dan bisnis yang memadai dari sistem pembayaran nasional agar dapat terhubung secara efektif dengan sistem internasional. Dalam BSPI 2030, perhatian utama adalah pengembangan infrastruktur serta pelaku dalam sistem pembayaran nasional sesuai dengan praktik terbaik yang ditentukan oleh standar internasional. Hal ini akan memungkinkan terwujudnya interkoneksi yang efisien, baik secara bilateral maupun multilateral. Destry juga menyampaikan bahwa BI akan terus melakukan evaluasi terhadap regulasi dan pengawasan sistem pembayaran dan penyelesaian transaksi secara berkala. Langkah ini bertujuan untuk memastikan bahwa transaksi treasury berlangsung dengan efisiensi dan keamanan tinggi, mengingat transaksi yang dikelola terus mengalami peningkatan terutama dalam skala *cross border transaction*. Dalam upaya menjadi penyedia layanan bank sentral yang handal, BI saat ini melakukan modernisasi dalam proses bisnisnya. Modernisasi ini bertujuan untuk menjadikan proses lebih fleksibel dalam menghadapi beragam instrumen dan skema yang berlaku di pasar uang dan valuta asing. Tak hanya itu, BI juga menjaga tata kelola yang transparan untuk memastikan ketertelusuran dan audit yang menyeluruh atas seluruh transaksi, dari pemrosesan sampai pembukuan yang bertanggung jawab dalam penyajian laporan keuangan. Sebelumnya, Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyampaikan bahwa Indonesia telah memperluas kerja sama *Quick Response Code Indonesian Standard* (QRIS) hingga ke negara-negara seperti Korea Selatan dan India. Setelah menjalin kemitraan dengan Malaysia, Thailand, dan Singapura, BI telah menandatangani nota kesepahaman mengenai kerja sama QRIS dengan sejumlah negara termasuk Korea Selatan, Uni Emirat Arab, Jepang, dan India. Ekspansi QRIS antarnegara ini bertujuan untuk meningkatkan kemudahan, efisiensi, dan keamanan dalam pembayaran ritel lintas negara. Data terakhir menunjukkan bahwa transaksi perbankan digital pada Juli 2024 mengalami pertumbuhan signifikan, yakni sebesar 30,50 persen dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai 1.845,27 juta transaksi. Lebih lanjut, transaksi menggunakan QRIS juga menunjukkan perkembangan pesat dengan pertumbuhan 207,55 persen dibandingkan tahun lalu. Pada bulan yang sama, jumlah pengguna *QRIS* mencapai 51,43 juta, sementara jumlah merchant yang mengadopsi sistem ini mencapai 33,21 juta. ANTARA