JAKARTA –
**Borneonews - Hamilton, Kanada**, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) baru-baru ini mengeluarkan pernyataan yang menggarisbawahi risiko besar yang dihadapi oleh stafnya serta pekerja kemanusiaan di Gaza. Organisasi ini menegaskan komitmennya untuk terus melanjutkan kegiatan penyelamatan yang vital bagi kehidupan warga sipil di wilayah tersebut. Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Keselamatan dan Keamanan, Gilles Michaud, menyatakan, "PBB bertekad untuk tetap berada di Gaza dan memberikan bantuan yang menyelamatkan hidup bagi serta bersama warga sipil Palestina." Ia mengungkapkan dengan tegas tantangan berat yang kini dihadapi oleh para pekerja kemanusiaan di wilayah tersebut, di mana mereka menjadi target selama krisis yang berlangsung dan mencatat bahwa kondisi saat ini merupakan yang paling fatal dalam sejarah layanan PBB. Dalam pernyataannya, Michaud juga menyoroti keprihatinan atas perintah evakuasi massal yang dikeluarkan oleh Israel baru-baru ini. Perintah ini termasuk insiden di akhir pekan yang memberikan waktu hanya beberapa jam bagi lebih dari 200 personel PBB untuk mengungsi dari kantor dan tempat tinggal mereka di Deir Al Balah, sebuah pusat kemanusiaan yang sangat penting. "Kami seperti banyak warga Palestina di Gaza, kehabisan tempat aman bagi staf kami sendiri," tambahnya. Selain itu, Michaud menjelaskan bahwa situasi keamanan yang tegang akibat konflik saat ini sangat menghambat kemampuan PBB untuk memberikan bantuan secara efektif. Hal ini menjadi semakin mendesak mengingat rencana pelaksanaan kampanye vaksinasi polio yang direncanakan akan dimulai dalam minggu depan. Ia mencatat, "Tindakan tentara Israel akhir pekan lalu memperburuk ancaman keamanan yang sudah ada dan sangat mempengaruhi kemampuan kami dalam menyampaikan bantuan dengan aman." Michaud juga menekankan bahwa keterbatasan yang ada saat ini berada di luar kendali PBB. Ia mengimbau kepada semua pihak yang terlibat dalam konflik agar mematuhi hukum humaniter internasional dan menghormati komitmen mereka berdasarkan Piagam PBB, termasuk perlindungan terhadap keselamatan serta keamanan personel dan fasilitas PBB. "Para wanita dan pria yang mengorbankan nyawanya untuk menyediakan bantuan kemanusiaan sangat memerlukan tempat yang aman dan konsisten untuk menjalankan tugasnya," pungkas Michaud, yang menggarisbawahi pentingnya semua pihak untuk menghormati hukum yang melindungi operasi kemanusiaan dalam situasi konflik yang sulit ini. ANTARA