BORNEONEWS, Sukamara – Betawakan atau perang air dengan menggunakan kelotok dan speed boad di sepanjang Sungai Jelai merupakan tradisi unik yang selalu dilakukan masyarakat Kabupaten Sukamara untuk memeriahkan perayaan Idul Fitri maupun Idul Adha.
Perang air ini berlangsung tiga hari berturut-turut sejak hari pertma hingga hari ketiga lebaran. Puluhan kelotok dari ukuran besar hingga kecil dan speed boad akan memenuhi sungai dengan mondar-mandir dan saling melempar satu sama lain ketika berpapasan.
Amir, warga Sukamara yang juga ikut dalam tradisi unik ini mengatakan, Betawakan memang merupakan agenda rutin yang selalu dilakukan masyarakat Sukamara sebagai ungkapan rasa senang saat menyambut hari besar Islam.
“Betawakan ini tidak hanya dilakukan warga Sukamara saja, tetapi warga dari Desa Sukaramai, Kalimantan Barat, juga ikut memeriahkan karena lokasi wilayah yang bersebelahan” kata Amir, Rabu (06/07/2016)
Selain orang dewasa, tradisi ini juga dimerihkan oleh anak-anak dan remaja. Mereka saling berkelompok untuk menyerang kelompok lain dengan melempar air yang sudah dibungkus dengan plastik kecil. Menariknya lagi, air yang dilempar bukan saja air putih atau air sungai biasa, tetapi air berwarna-warni yang sudah diberi bahan pewarna.
“Kita sudah menyiapkan air yang dibungkus dengan pelastik dari rumah, sehingga saat turun ke sungai kita hanya akan melemparkannya ke musuh saja. Dan bagi yang terkena tidak boleh emosi ” ujarnya.
Ia menjelaskan, lantaran acara Betawakan selalu dilakukan tiap tahun dan peserta sudah memahami cara bermainnya, maka tidak akan menimbulkan permasalahan bagi kelompok lainnya yang terkena saat dilempari air. Malah susuh yang terkena hanya akan menimbulkan tawa.
“Setiap ada yang kena lemparan, selain musuh yang tertawa, rekan kita pun ikut tertawa karena melihat rekannya basah kuyup kena air” ucapnya.
Midah, seorang penonton mengatakan, acara Betawakan yang sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Sukamara ini memang cukup menghibur bahkan menjadi salah satu acara favorit.
“Aksi ini menjadi tontonan menarik masyarakat Kabupaten Sukamara. Usai dari sholat ashar warga Sukamara mulai berbondong-bodong turun ke bantaran sungai untuk menonton. Lokasi favorit yang biasanya dijadikan masyarakat untuk menonton adalah pelabunan speed boad,” terang Midah.
Ia berharap tradisi yang sudah berjalan cukup lama ini dapat terus hidup dan menjadi aksi positif bagi masyarakat dalam memeriahkan Idul Fitri dan Idul Adha. (MG-13/m)








