BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Fasilitas transportasi penyeberangan ke TWA Tanjung Keluang, berupa kelotok wisata ataupun kelotok nelayan yang beralih fungsi pada saat lebaran ini tidak memperhatikan keselamatan penumpang.
Psdahal TWA Tanjung Keluang, Pantai Kubu, Pantai Umbang, Pantai Bogam dan Tanjung Penghujan serta Keraya masih menjadi destinasi wisata masyarakat baik dari Kabupaten Kotawaringin Barat, Sukamara dan Lamandau.
Ini terlihat pada minimnya pelampung dan life jacket yang tersedia di atas kapal. Padahal kelotok-kelotok yang dipenuhi pengunjung itu ukurannya tidak seberapa besar. Sementara kondisi cuaca pada sore hari biasanya bergelombang besar.
Perjalanan dari Pantai Kubu ke TWA Tanjung Keluang dengan tarif Rp20 ribu/orang ini memakan waktu antara 15-20 menit.
Menurut seorang juru mudi kapal yang hilir mudik mengantarkan penumpang ke TWA Tanjung Keluang mengatakan dari puluhan kapal yang menjual jasa mengantarkan penumpang sebagian besar adalah merupakan kelotok yang sehari-hari digunakan untuk mencari ikan. Mereka mencari peruntungan mengingat libur lebaran biasanya ribuan warga menyeberang ke TWA Tanjung Keluang.
"Wajar kalau sebagian besar kelotok yang biasanya ke laut untuk mencari ikan ini tidak disertai dengan tersedianya peralatan keselamatan seperti pelampung atau life jaket, namun untuk kelotok yang berukuran besar dan berfungsi sebagai alat transportasi penyeberangan tetap tersedia pelampung," kata Igub saat di konfirmasi Borneonews di Pantai Kubu saat menawarkan jasa penyeberangan, Kamis (7/7/2016).
Minimnya keselamatan tersebut juga dikeluhkan oleh pengunjung pantai Kubu yang baru tiba dari TWA. Tanjung Keluang, ia mengatakan Dinas Pariwisata harus mulai memikirkan bantuan pengadaan alat keselamatan penumpang berupa pelampung.
Menurutnya, perjalanan melalui laut menuju TWA Tanjung Keluang yang seharusnya dapat ia nikmati pemandangan lautnya berganti menjadi kekhawatiran saat perahu kelotok kecil yang ia tumpangi dipenuhi penumpang. Apalagi ia dan anaknya masih balita tidak bisa berenang.
"Ini menjadi PR bersama untuk memikirkan keselamatan penumpang, jangan sampai maksud penumpang untuk berekreasi justru menjadi malapetaka, pemerintah juga jangan diam saja melihat hal ini," harap Rusmadiyati, warga Kabupaten Sukamara yang datang ke Kobar untuk menikmati liburan Idul Fitri. (KOKO SULISTYO/m








