SEMARANG –
**Borneonews - Banyumas**, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas, Budi Nugroho, menginformasikan bahwa kawasan yang terkena dampak kekeringan di Banyumas, Jawa Tengah, sudah mencapai 28 desa yang tersebar di 13 kecamatan. Situasi ini menjadi perhatian serius, terutama karena Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Banyumas juga terpengaruh selama musim kemarau tahun ini. Budi Nugroho menyatakan bahwa hingga saat ini, pihaknya telah menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 133 tangki, yang setara dengan 665.000 liter. Bantuan ini diperuntukkan bagi penduduk di 28 desa yang merasakan dampak kekeringan serta RSUD Banyumas. Selain itu, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Banyumas turut ambil bagian dengan memberikan 44 tangki air bersih, yang setara dengan 220.000 liter. Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy juga berkontribusi dengan menyalurkan satu tangki berisi 5.000 liter. Lebih lanjut, Budi menjelaskan bahwa jumlah keluarga yang terkena dampak kekeringan di 28 desa tersebut mencapai 7.575 keluarga, yang terdiri dari total 23.846 jiwa. Selain masalah kekeringan, situasi ini juga menimbulkan kekhawatiran terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di beberapa daerah di Banyumas. Berdasarkan data yang diperoleh, selama musim kemarau tahun 2024, tercatat telah terjadi 12 kejadian kebakaran hutan dan lahan di 12 desa atau kelurahan, dengan total luas lahan yang terbakar mencapai 30,914 hektare. Menghadapi risiko ini, Budi mengimbau kepada masyarakat agar tidak membakar sampah atau rumput di lahan maupun hutan. Ia juga menekankan pentingnya untuk tidak membuang puntung rokok sembarangan, yang dapat memicu kebakaran. “Apalagi saat ini kita berada di puncak musim kemarau dengan angin yang cukup kencang. Sekecil apapun api yang ditimbulkan bisa berisiko menyebabkan kebakaran hutan dan lahan,” pungkas Budi Nugroho, menunjukkan betapa seriusnya situasi yang tengah dihadapi. ANTARA