**Borneonews - Bengkulu**, Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah, menyatakan bahwa pemanfaatan teknologi dapat menjadi solusi untuk mengatasi ketimpangan gender yang terjadi dalam akses terhadap sumber daya alam. Hal ini diharapkan dapat berkontribusi dalam meningkatkan perekonomian di tingkat keluarga.
"Dengan adanya teknologi, kita dapat mencapai kesetaraan dalam mengakses sumber daya. Memandang kesetaraan gender tidak semata-mata berarti bahwa laki-laki dan perempuan melakukan hal yang sama, seperti lelaki yang menebang atau membabat hutan, sedangkan perempuan juga melakukan hal yang serupa. Pendekatan ini terlalu sempit," ujar Rohidin Mersyah di Bengkulu pada Rabu.
Menurut beliau, kesetaraan akses terhadap sumber daya alam bagi laki-laki dan perempuan seharusnya ditentukan berdasarkan kesempatan yang sama untuk memanfaatkan sumber daya, bukan berdasarkan jenis pekerjaan yang dilakukan. Contohnya, laki-laki memanfaatkan hutan dengan mengambil hasil hutan atau melaut yang seringkali dianggap sebagai pekerjaan laki-laki, sedangkan perempuan dapat memanfaatkan sumber daya alam dengan cara yang berbeda, mengolah hasil tersebut, yang memerlukan dukungan teknologi.
"Misalnya, para pria akan melaut, sedangkan para wanita dapat mengolah hasil laut menjadi produk olahan ikan. Begitu pula dengan hutan, perempuan bisa mengelola hutan untuk dijadikan ekowisata yang memiliki nilai, serta industri turunan dari hasil sumber daya alam, tanpa merusak hutan itu sendiri," jelasnya.
Rohidin menegaskan bahwa dengan pendekatan ini, akan tercipta kesetaraan dalam akses terhadap sumber daya alam di antara kedua gender. Selain itu, hal tersebut juga dapat membantu mengakhiri ketimpangan ekonomi dan gender yang selama ini terjadi di masyarakat.
"Oleh karena itu, mari kita bersama-sama menciptakan teknologi yang ramah bagi perempuan dan juga merumuskan kebijakan yang mendukung peran perempuan dalam pengelolaan sumber daya alam," tambahnya.
Di kesempatan sebelumnya, Gubernur juga menekankan bahwa perempuan dan generasi muda adalah dua kelompok utama yang dapat berperan dalam menjaga kelestarian hutan serta mengatasi masalah kerusakan dan deforestasi di provinsi yang dikenal dengan sebutan Bumi Raflesia ini. Berbeda dengan pandangan laki-laki yang sering kali berorientasi pada pencapaian nilai ekonomi dengan cara menebang pohon, yang pada akhirnya merusak hutan, Rohidin mengungkapkan bahwa perempuan lebih cenderung untuk melihat potensi hasil alam tanpa harus merusak lingkungan.
"Perempuan memiliki pandangan yang berbeda; mereka mampu memanfaatkan buah-buahan atau hasil hutan lainnya untuk dijadikan produk yang memiliki nilai ekonomi, tanpa perlu melakukan deforestasi," tutur Rohidin Mersyah.
ANTARA
Pemanfaatan Teknologi Ciptakan Kesetaraan Gender Akses SDA
Bagikan:

BENGKULU –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Iran Ancam Gunakan Taktik Baru jika AS Kembali Lancarkan Serangan
OJK Kalteng Tekankan Manfaat Nyata Inklusi Keuangan bagi Kesejahteraan Masyarakat
Dokter Jadi Tersangka Dugaan Pencabulan terhadap Anak Kandung Berusia 4 Tahun
Dampak Karhutla bagi Kesehatan Bukan Hanya Gangguan Pernapasan
Karhutla Ancam Habitat Orangutan di Kalteng, Patroli dan Evakuasi Satwa Diperkuat
Hadapi Isenmulang FC, PSIM Fokus Pulihkan Fisik dan Benahi Pertahanan
Komentar (0)
Memuat komentar…







