JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah mengumumkan penetapan empat proyek sebagai percontohan untuk skema pembiayaan *Land Value Capture* (LVC). Proyek-proyek tersebut terdiri dari Jalan Tol Pelabuhan Lematang-Panjang di Lampung, Jalan Tol Rengat-Pekanbaru di Riau, Jembatan Batam-Bintan di Kepulauan Riau, dan Jalan Tol Pelabuhan Semarang. Reni Ahiantini, Direktur Pembiayaan Infrastruktur Jalan dan Jembatan di kementerian, menyatakan bahwa saat ini keempat proyek tersebut masih dalam tahap persiapan untuk penerapan skema LVC. Diharapkan skema ini dapat memperkaya studi kelayakan proyek yang dijalankan. Sebagaimana diketahui, pemerintah telah meluncurkan dua skema pembiayaan kreatif untuk pengembangan infrastruktur, yaitu Skema Konsesi Terbatas (*Limited Concession Scheme* - LCS) dan *Land Value Capture* (LVC). Skema LVC ini merupakan alternatif pendanaan berbasis daerah yang memungkinkan proyek infrastruktur didanai dari nilai tambah yang dihasilkan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pihak swasta. Tujuan dari skema ini adalah untuk menciptakan siklus manfaat dari proyek infrastruktur bagi wilayah sekitarnya. Ahiantini menjelaskan, "Ini dapat menjadi salah satu contoh di mana *Public Private Partnership* (PPP) akan berkolaborasi dengan LVC. Ketiga skema (LCS, LVC, dan PPP) tidak akan berjalan sendiri-sendiri dalam proyek jalan tol." Sementara itu, Bramantio Isdijoso, Direktur Pengelolaan Dukungan Pemerintah dan Pembiayaan Infrastruktur di Kementerian Keuangan, menambahkan bahwa dengan diadopsinya skema LVC, pemerintah kini memiliki lebih banyak alternatif dalam pembiayaan pembangunan infrastruktur. Kolaborasi ini diharapkan dapat meringankan beban anggaran negara dalam mendanai proyek-proyek infrastruktur yang ada. "Dengan demikian, ada lebih banyak opsi dalam hal pembangunan infrastruktur, dan sinergi antara ketiga skema ini adalah sesuatu yang harus terus kita usahakan. Ini berarti bahwa aset yang telah selesai dibangun harus dapat menghasilkan lebih banyak likuiditas," ujarnya. ANTARA