JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menegaskan pentingnya intervensi menyeluruh bagi anak sejak masih dalam kandungan. Intervensi ini mencakup beragam aspek, seperti pemenuhan gizi, kesehatan, dan pendidikan yang dibutuhkan untuk mendukung tumbuh kembang mereka. Woro Srihastuti, Deputi Bidang Peningkatan Kualitas Anak, Perempuan, dan Pemuda Kemenko PMK, menyatakan bahwa pola pengasuhan tidak hanya dimulai saat anak lahir. Sebaliknya, periode kehamilan juga memerlukan perhatian khusus, di mana ibu hamil harus diberikan asupan gizi yang cukup serta stimulasi yang tepat. Pernyataan tersebut disampaikan dalam Seminar Nasional mengenai strategi investasi untuk *Pendidikan Anak Usia Dini Holistik Integratif* (PAUD HI) yang diselenggarakan di Kemenko PMK, Jakarta. Dalam seminar itu, Woro menjelaskan bahwa masih ada kesalahpahaman di kalangan orang tua dan pendidik tentang PAUD HI. Banyak yang beranggapan bahwa PAUD HI hanya terkait dengan pendidikan formal, padahal konsepnya jauh lebih luas, mencakup semua aspek perkembangan anak mulai dari dalam kandungan hingga usia enam tahun. Woro menekankan bahwa anak untuk mendapatkan intervensi yang menyeluruh, termasuk aspek gizi, kesehatan, perkembangan otak, kesejahteraan, perlindungan, dan pendidikan. Semua hal ini harus berjalan secara terintegrasi untuk mendukung pertumbuhan anak dengan optimal. Lebih lanjut, dijelaskan bahwa perkembangan anak dimulai dari janin yang memerlukan asupan gizi yang adekuat. Kualitas gizi yang baik sangat penting dalam mendukung perkembangan otak yang berpengaruh terhadap kesehatan, emosi, dan tingkat kecerdasan anak di masa depan. "Imunisasi dasar juga sangat penting. Ini adalah salah satu bentuk perlindungan fisik yang harus diberikan," ungkapnya. Woro menjelaskan bahwa otak anak yang berusia di bawah lima tahun sangat peka terhadap stimulus yang diterima dari lingkungan. Oleh karena itu, penting untuk memberikan rangsangan yang positif agar anak dapat mengembangkan emosi dengan baik saat memasuki masa remaja. Selain itu, aspek pengasuhan juga menjadi fokus penting. Ia menekankan bahwa pengasuhan yang baik akan berperan besar dalam pembentukan karakter anak. Oleh karena itu, anak-anak harus dilindungi dari berbagai bentuk kekerasan dan pengaruh negatif di rumah maupun lingkungan. Lebih jauh, Woro juga mengingatkan bahwa penggunaan perangkat *gadget* oleh anak dapat memberikan dampak merugikan. Oleh karena itu, orang tua sebaiknya bijak dalam memberikan akses atas teknologi kepada anak-anak agar tidak memengaruhi perkembangan emosional mereka secara negatif. Masalah yang ada adalah layanan PAUD HI di tingkat daerah sering berjalan secara terpisah antara satu lembaga dengan lembaga lainnya. Hal ini memerlukan pengarahan yang memadai untuk menyelaraskan semua aspek layanan PAUD HI. Dalam kesempatan yang sama, Netti Herawati, Wakil Rektor II Universitas Veteran Jakarta, mencatat bahwa masih banyak orang tua dan guru yang belum sepenuhnya memahami konsep PAUD HI. Konsep ini sering dianggap hanya sebatas pendidikan usia dini, sedangkan pendidikan adalah salah satu komponen dari PAUD HI yang holistik. Penting untuk memperbaiki pemahaman ini agar anak-anak dapat memenuhi kebutuhan esensial dan tumbuh kembang secara optimal, demi mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. "Untuk memberikan pendidikan yang efektif, anak harus mendapatkan gizi yang baik dan kesehatan yang memadai. Keduanya menjadi pondasi penting agar pendidikan yang diberikan bisa diproses dengan baik dalam pikiran anak," tutupnya. ANTARA