JAKARTA –
**Borneonews - Beijing**, Permasalahan berkaitan dengan Taiwan serta isu-isu perdagangan menjadi sorotan utama dalam pertemuan antara Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, dan Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat, Jake Sullivan. Pertemuan ini berlangsung di Beijing pada tanggal 27 dan 28 Agustus 2023, di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara yang merupakan kekuatan utama di dunia. Wang Yi menekankan posisi China terhadap Taiwan, menyatakan secara tegas bahwa Taiwan adalah bagian dari China dan bersatu kembali adalah suatu keharusan. Ia menambahkan, ancaman 'kemerdekaan Taiwan' menjadi risiko terbesar bagi perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan. Pada saat yang sama, Wang menekankan pentingnya Amerika Serikat untuk berpegang pada komitmennya untuk tidak mendukung gerakan independen Taiwan, menghormati prinsip *satu China*, serta mematuhi tiga komunike yang telah disepakati antara China dan AS. Ia juga meminta agar AS menghentikan pengiriman senjata ke Taiwan dan mendukung reunifikasi secara damai. Dalam konteks yang lebih luas mengenai hubungan bilateral, Wang Yi menekankan bahwa keamanan nasional memerlukan batasan yang jelas, khususnya dalam ekonomi, yang harus didefinisikan secara ilmiah. Ia meminta Amerika Serikat untuk menghentikan kebijakan yang dianggap menindas China di bidang ekonomi, perdagangan, serta teknologi. Wang mengingatkan bahwa penggunaan 'kelebihan kapasitas' sebagai alasan untuk melakukan perlindungan perdagangan hanya akan merugikan kebijakan lingkungan global dan berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi dunia. Wang Yi juga menegaskan komitmennya terhadap kedaulatan teritorial China, khususnya di Laut Cina Selatan, dan meminta agar AS tidak mengecilkan integritas wilayah tersebut dengan mempergunakan perjanjian bilateral. Ia menilai bahwa hubungan antara China dan AS saat ini sudah melalui berbagai proses dan pengalaman. Untuk itu, ia mengusulkan lima langkah untuk menjaga hubungan tersebut tetap pada jalur yang konstruktif. Pertama, hubungan antara kedua negara harus dikendalikan oleh pemimpin masing-masing, dengan mengutamakan prinsip saling menghormati dan kerjasama yang saling menguntungkan. Kedua, penting bagi kedua belah pihak untuk mematuhi tiga komunike yang merupakan dasar politik bagi hubungan diplomatik. Ketiga, perlakuan setara antara keduanya harus dijunjung tinggi, mengingat bahwa kekuatan bukan merupakan cara yang tepat dalam interaksi antar negara. Keempat, Wang menyerukan peningkatan pertukaran antarmasyarakat untuk menciptakan suasana yang lebih baik dan sehat, sementara kelima, ia meminta pemahaman yang benar mengenai posisi masing-masing negara. Wang mengingatkan agar AS tidak berspekulasi dengan cara-cara yang tidak objektif mengenai China. Menanggapi pernyataan Wang Yi, Sullivan mengakui bahwa terdapat perbedaan dan persaingan antara kedua negara, tetapi banyak bidang yang juga memerlukan kerja sama. Ia sepakat dengan perlunya perlakuan setara dalam hubungan tersebut dan menegaskan bahwa AS tidak berniat untuk melepaskan diri dari kerja sama dengan China. Sullivan juga menegaskan bahwa AS tetap berpegang pada kebijakan *satu China* dan menolak dukungan terhadap 'kemerdekaan Taiwan' serta gagasan 'dua China' atau 'satu China, satu Taiwan'. Sullivan menyatakan keyakinan bahwa AS dan China dapat hidup berdampingan secara damai dalam jangka waktu yang panjang, serta tekad untuk berupaya mengembangkan hubungan yang berkelanjutan. Selama pertemuan, kedua pejabat juga membahas isu-isu internasional lain, termasuk situasi di Ukraina dan Timur Tengah. Kunjungan Sullivan ini menjadi yang pertama oleh Penasihat Keamanan Nasional AS dalam delapan tahun terakhir. Hal ini dianggap penting sebagai persiapan menjelang pertemuan puncak berikutnya antara Presiden Joe Biden dan Presiden Xi Jinping. Selain itu, Sullivan dan Wang Yi sepakat untuk melanjutkan kerja sama di bidang pengendalian narkoba, penegakan hukum, serta respons terhadap perubahan iklim, yang diharapkan dapat memperkuat ikatan dan pemahaman antara kedua negara di masa mendatang. ANTARA