JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Pendiri dan CEO Scarf Media, Temi Sumarlin, menyatakan bahwa industri *modest fashion* di Indonesia perlu menonjolkan nilai-nilai keislaman dalam setiap desainnya. Ini adalah langkah penting untuk diakui sebagai pusat fesyen Muslim tingkat dunia. "Sering kali kita melupakan pentingnya branding. Mengapa *modest fashion* harus ada di Indonesia? Kita dapat membawa *value islamic*, serta mengedepankan wastra. Mengapa harus ada transparansi? Ini adalah suatu nilai, dan tidak boleh terdapat unsur makhluk hidup," ungkap Temi saat berbicara dalam acara Inkubasi *modest fashion* tahap kedua yang mengarah ke JMFW 2025 di Jakarta pada hari Rabu. Temi menegaskan bahwa jika nilai-nilai keislaman yang berasal dari zaman kerajaan masa lalu dapat diangkat, maka hal tersebut akan menjadi keunggulan yang mampu menarik perhatian dunia internasional. Selain menyelenggarakan acara khusus yang berkaitan dengan *modest fashion*, dia juga menyoroti pentingnya sinergi antara para kreator fesyen Muslim dan berbagai kementerian terkait. Hal ini bertujuan untuk melaksanakan program yang saling mendukung. "Kami berharap ketika satu program terintegrasi dengan lainnya, baik itu dari sektor UMKM hingga mikro, mereka dapat meningkat dan kemudian dipromosikan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Kemudian, produk tersebut dijual dan dipromosikan melalui Kementerian Perdagangan. Dengan sinergi ini, saya percaya kita bisa mempercepat posisi Indonesia sebagai pusat *modest fashion*. Dengan begitu, kita tidak akan terjebak dalam satu jalur yang sama setiap tahunnya," tambah Temi. Menurutnya, kecepatan Indonesia dalam menjadi pusat *modest fashion* dunia juga sangat bergantung pada pengaruh digital. Laporan State of Global Islamic Economic menyebutkan bahwa platform digital merupakan sarana kampanye yang sangat efektif untuk memperkenalkan fesyen khas Indonesia. Melalui kampanye digital, Temi percaya bahwa penikmat fesyen internasional akan lebih mudah mengenali apa yang menjadi ciri khas fesyen dari Indonesia. Namun, di sisi lain, tantangan yang dihadapi adalah belum adanya kesepakatan di kalangan kreator mengenai definisi spesifik tentang seperti apa *modest fashion* Indonesia seharusnya. "Karena variasi yang terlalu banyak, menjadi sulit bagi kita untuk mengidentifikasi dan mengatakan bahwa inilah yang mewakili Indonesia. Apakah itu bahan berbulu, jaring-jaring, atau desain lainnya. Kita juga memerlukan penguatan dalam hal gaya," jelasnya. Sebagai rekomendasi, Temi menyarankan agar Indonesia mempersiapkan sekolah mode yang lebih khusus untuk fokus pada *modest fashion* atau busana Muslim. Selain itu, dia juga mendorong pembentukan komite fesyen Muslim di Indonesia yang akan terdiri dari para ahli mode yang bertanggung jawab dalam menentukan tren *modest fashion* yang sesuai. ANTARA