JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Indonesia akan menerapkan protokol kesehatan yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (*World Health Organization* atau WHO) sebagai langkah antisipasi terhadap kasus *mpox* selama Forum Tingkat Tinggi tentang Kemitraan Multisisi (HLF MSP) yang dijadwalkan berlangsung pada tahun 2024. Menurut pernyataan Bogat Widyatmoko, Deputi Bidang Politik, Hukum, Pertahanan, dan Keamanan di Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, dalam sebuah konferensi pers pada hari Rabu, protokol kesehatan ini mencakup pemeriksaan suhu badan di bandara serta tempat-tempat karantina. Penekanan pada prosedur ini diambil sebagai hasil pembelajaran dari pengalaman Indonesia dalam menghadapi pandemi COVID-19. Penerapan protokol kesehatan tersebut bertujuan untuk mengurangi risiko penularan *monkeypox* yang belakangan ini menjadi perhatian. Widyatmoko mengungkapkan bahwa pemerintah juga telah merencanakan simulasi yang akan dilaksanakan pada tanggal 30 Agustus 2024, diikuti dengan latihan pada tanggal 31 Agustus dan 1 September. Dalam persiapan tersebut, pemerintah juga sedang memfokuskan perhatian pada penguatan infrastruktur jaringan internet dan keamanan siber. HLF MSP 2024 akan diselenggarakan di Bali pada tanggal 1 hingga 3 September, yang bertepatan dengan perayaan ulang tahun ke-69 Konferensi Asia-Afrika, yang lebih dikenal sebagai Konferensi Bandung. Acara ini akan menekankan semangat solidaritas dan kerja sama antar negara berkembang. Pertemuan ini diharapkan dapat menjadi platform bagi berbagai pemangku kepentingan global dalam merancang masa depan yang lebih inklusif dan berkelanjutan, sejalan dengan semangat Konferensi Bandung yang telah ditanamkan sejak tahun 1955. Acara ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam sejarah diplomasi serta kerjasama pengembangan internasional, khususnya di antara negara-negara yang sedang berkembang. Forum ini tidak hanya bertujuan untuk mencari solusi atas kebuntuan dalam pembangunan global, tetapi juga untuk memastikan komitmen semua pihak serta peran mereka dalam memperjuangkan solusi tersebut. Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengumumkan bahwa pada tanggal 14 Agustus, WHO telah menetapkan *mpox* sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional (*Public Health Emergency of International Concern* atau PHEIC). Munculnya klade 1B *mpox* di Afrika menjadi faktor utama di balik perubahan status tersebut. ANTARA