BOGOR –
**Borneonews - Kabupaten Bekasi**, Tim Kaji Cepat Daerah Aliran Sungai (DAS) di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, melanjutkan upayanya untuk menghadapi tantangan kekeringan yang kini mengancam area persawahan. Kegiatan tersebut membawa tim untuk menginspeksi lokasi di Kecamatan Tambelang dan Tambun Utara. Kegiatan ini bertujuan untuk mengumpulkan data informasi secara langsung terkait situasi serta kondisi lahan pertanian yang terpengaruh oleh kekeringan. Hal ini diungkapkan oleh Ahmad Erlangga, seorang anggota tim kaji cepat, saat ditemui di Cikarang. Dalam pengamatan yang dilakukan, tim menemukan bahwa aliran sungai sekunder Bulak Mangga mengalami penurunan debit air. Penurunan tersebut memengaruhi pasokan yang selama ini digunakan petani untuk mengairi sawah mereka. Erlangga menekankan bahwa pintu air Bulak Mangga 16 tidak mampu memenuhi kebutuhan irigasi, khususnya bagi petani di Desa Srimahi dan Srijaya di Kecamatan Tambun Utara. Untuk memahami dengan lebih baik kondisi yang dihadapi, tim juga bertemu dengan perwakilan dari gabungan kelompok tani atau biasa disebut gapoktan. Pertemuan ini bertujuan untuk mendengarkan kronologi masalah dan tantangan yang saat ini harus dihadapi oleh para petani setempat. Erlangga menambahkan, informasi yang terkumpul akan segera dilaporkan kepada pimpinan. Laporan tersebut mencakup berbagai keluhan terkait sistem irigasi dari Saluran Sekunder Bulak Mangga, dengan harapan dapat segera ditindaklanjuti. Saat ini, dari total area pertanian seluas 1.031 hektare di Kecamatan Tambun Utara, sebanyak 639 hektare telah ditanami. Namun, terdapat 80 hektare lahan yang saat ini terdampak kekeringan. Rincian lahan yang terpengaruh mencakup 15 hektare di Desa Srimukti, 40 hektare di Srimahi, dan 25 hektare di Srijaya. Gapoktan juga menyatakan perlunya pembukaan kembali Saluran Sekunder Bulak Mangga atau penambahan debit air agar lahan pertanian dapat diairi dengan baik. Harapannya adalah agar penanganan yang sesuai dengan kondisi di lapangan dapat dilakukan segera, sehingga lahan pertanian yang mengalami kekeringan ini dapat kembali berproduksi. Hasil dari kaji cepat ini diharapkan mendapatkan tindak lanjut dan implementasi penanganan dari Pemerintah Kabupaten Bekasi, sehingga permasalahan yang dihadapi oleh para petani dapat segera teratasi. ANTARA