**Borneonews - Banda Aceh**, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh mengajak Pemerintah Aceh untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan sektor industri pengolahan. Penekanan ini disampaikan oleh Kepala BI Aceh, Rony Widijarto, dalam Laporan Perekonomian Aceh yang diterbitkan pada Mei 2024.
Rony menekankan bahwa penguatan bidang usaha industri pengolahan merupakan langkah strategis untuk mempercepat pemulihan dan pertumbuhan ekonomi di daerah yang dikenal sebagai Tanah Rencong. Dalam paparannya, ia menyebutkan pentingnya memanfaatkan potensi sektor hulu yang ada di Aceh guna mendorong aktivitas industri pengolahan. Sektor ini dinilai memiliki kemampuan untuk menyerap tenaga kerja secara signifikan dan memberikan efek berantai yang besar, atau yang dikenal dengan istilah *multiplier effect*.
Demi mencapai tujuan tersebut, perlu dilakukan pemetaan terhadap pohon industri dari setiap komoditas unggulan, serta kajian teknis terkait potensi yang dimiliki oleh setiap jenis industri. Hal ini diharapkan dapat menghindarkan daerah dari peralihan produk tanpa adanya proses pengolahan yang seharusnya dapat memberikan nilai tambah.
Lebih lanjut, Rony menyampaikan bahwa memberikan nilai tambah melalui industri pengolahan sangat penting untuk memajukan perekonomian Aceh. Ia menggarisbawahi bahaya yang mungkin muncul jika Aceh kehilangan potensi nilai tambah yang dapat dihasilkan melalui sektor ini.
Salah satu contoh yang disorot adalah komoditas beras. Pasalnya, Aceh sering kali harus mendatangkan beras dari luar daerah, meskipun secara tahunan produksi beras di Aceh menunjukkan surplus. Ia menjelaskan bahwa gabah dari Aceh sering kali dijual ke wilayah Sumatera Utara untuk diolah menjadi beras, yang kemudian dijual kembali ke Aceh. Kondisi ini berdampak pada harga beras yang bisa lebih tinggi dibandingkan dengan harga lokal.
Sebagai tambahan, BI juga mengusulkan agar Pemerintah Aceh memperkuat model bisnis *sharing factory*, atau rumah produksi bersama, yang dapat mendorong perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta industri. Ia menyoroti potensi kawasan industri KIA Ladong sebagai tempat yang ideal untuk rumah produksi bersama bagi UMKM. Model ini akan memungkinkan para pengusaha kecil untuk menciptakan produk yang lebih berdaya saing dan bernilai tambah, dengan dukungan fasilitas yang disediakan oleh pengelola sentra industri.
Rony menegaskan bahwa penerapan model *sharing factory* telah berhasil di sejumlah daerah lain, dan dapat dijadikan contoh karena mampu meningkatkan kualitas produk serta kapasitas UMKM di daerah tersebut. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan ekonomi Aceh dapat terus berkembang dan bersaing di tingkat nasional.
ANTARA
Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Aceh Melalui Industri Pengolahan
Bagikan:

BANDA ACEH –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Iran Ancam Gunakan Taktik Baru jika AS Kembali Lancarkan Serangan
OJK Kalteng Tekankan Manfaat Nyata Inklusi Keuangan bagi Kesejahteraan Masyarakat
Dokter Jadi Tersangka Dugaan Pencabulan terhadap Anak Kandung Berusia 4 Tahun
Dampak Karhutla bagi Kesehatan Bukan Hanya Gangguan Pernapasan
Karhutla Ancam Habitat Orangutan di Kalteng, Patroli dan Evakuasi Satwa Diperkuat
Hadapi Isenmulang FC, PSIM Fokus Pulihkan Fisik dan Benahi Pertahanan
Komentar (0)
Memuat komentar…







