BOGOR –
**Borneonews - Kabupaten Bekasi**, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, sedang melakukan pemetaan wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan akibat musim kemarau. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk mengantisipasi dampak yang dapat mempengaruhi aktivitas masyarakat secara luas. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, Dodi Supriadi, menjelaskan bahwa berdasarkan hasil pemetaan dan kajian awal, sejumlah area di pesisir laut menjadi fokus perhatian pemerintah daerah. Pihaknya mencatat bahwa telah muncul keluhan dari warga mengenai masalah air asin yang mereka alami ketika mereka berkunjung ke lapangan. “Masyarakat setempat telah mengajukan permohonan untuk mendapatkan bantuan air bersih,” ujarnya saat ditemui di Cikarang. Sebagai tanggapan terhadap keluhan tersebut, BPBD berkoordinasi dengan pihak kecamatan untuk mengajukan permohonan pengiriman bantuan air bersih secepat mungkin. Dodi menambahkan, “Kami sudah menerima surat permohonan yang masuk dan langsung menindaklanjuti dengan distribusi air bersih ke kecamatan yang membutuhkan.” Selain itu, BPBD juga melakukan penilaian terhadap lahan pertanian yang terdampak kekeringan. Penilaian ini menjadi dasar untuk merencanakan langkah-langkah selanjutnya bersama perangkat daerah yang berkaitan dengan hal ini. “Kami terus melakukan pendataan dan pemantauan di setiap titik wilayah yang terkena dampak kekeringan, termasuk di area pertanian,” lanjutnya. Sekretaris BPBD Kabupaten Bekasi, Agus Suparno, menyatakan bahwa koordinasi lintas sektor terus dijalin untuk menangani dampak kekeringan agar tidak meluas dan mengganggu aktivitas masyarakat. Dia juga mengungkapkan, berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau diprediksi tidak akan berlangsung sepanjang tahun seperti sebelumnya. BMKG bahkan memberikan indikasi bahwa musim hujan akan mulai tiba pada akhir September atau awal Oktober 2024. “Meski demikian, kami tetap bersiaga untuk menghadapi segala kemungkinan yang bisa terjadi. Saat ini, kami terus meningkatkan koordinasi yang diperlukan,” tutup Agus Suparno. ANTARA