**Borneonews - Badung, Bali**, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan menegaskan betapa pentingnya melakukan deteksi dini terhadap berbagai penyakit. Langkah ini tidak hanya bermanfaat untuk mencegah pemburukan kondisi kesehatan yang dapat berujung pada kematian, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Ali Ghufron Mukti, mencatat bahwa promosi pencegahan sangat penting dan efisien. "Kami melakukan upaya promotif untuk pencegahan, yang merupakan metode yang baik dalam menjaga kesehatan," ungkapnya saat berbincang dengan media di Kuta, Kabupaten Badung, Bali, pada Rabu malam.
Lebih lanjut, ia menghimbau masyarakat untuk menjaga pola hidup yang sehat melalui konsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, serta menerapkan waktu istirahat yang teratur. Menurutnya, pengendalian kesehatan lewat cara pencegahan lebih efektif daripada hanya bergantung pada obat-obatan, kecuali obat tersebut memang dibutuhkan berdasarkan indikasi medis.
Upaya pencegahan ini juga berkontribusi pada peningkatan jumlah peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang memanfaatkan layanan pemeriksaan kesehatan atau *screening*. Data yang dipaparkan oleh Deputi Direksi Bidang Komunikasi Organisasi BPJS Kesehatan, Irfan Humaidi, menunjukkan bahwa pada tahun 2023 jumlah peserta JKN yang menjalani pemeriksaan kesehatan mencapai 39,6 juta orang, meningkat signifikan dibandingkan dengan 15,5 juta orang pada tahun 2022.
Rinciannya, sekitar 39,2 juta peserta melakukan pemeriksaan riwayat kesehatan. Sementara itu, pemeriksaan sekunder, seperti untuk diabetes melitus, *IV A*, dan *pap smear* untuk deteksi kanker serviks juga turut dilakukan oleh sebagian peserta. Dari hasil pemeriksaan riwayat kesehatan tersebut, ditemukan bahwa tujuh persen atau sekitar 2,5 juta peserta berisiko mengalami hipertensi, dan tiga persen atau sekitar 1,1 juta peserta berisiko terkena penyakit jantung koroner.
Di sisi lain, BPJS Kesehatan mencatat bahwa pada tahun 2023, biaya layanan kesehatan untuk penyakit katastropik mencapai Rp34,7 triliun, dengan penyakit jantung menjadi penyumbang terbesar, yakni mencapai 20 juta kasus. Angka ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, yang total biaya layanan kesehatan untuk tahun 2022 mencapai Rp17 triliun, dengan penyakit jantung mendominasi dengan biaya mencapai Rp8,2 triliun pada 11,5 juta kasus.
Selain penyakit jantung, terdapat juga biaya yang besar terkait dengan penyakit-penyakit kritis seperti gagal ginjal, kanker, stroke, hingga hemofilia, yang menunjukkan betapa pentingnya deteksi dini dalam mencegah perkembangan penyakit tersebut.
Pemeriksaan kesehatan, atau *screening*, dapat dilakukan dengan mengunjungi fasilitas kesehatan tingkat pertama (FTKP) atau melalui aplikasi Mobile JKN yang memudahkan akses masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan yang diperlukan.
ANTARA
Deteksi Dini Penyakit Penting untuk Cegah Pemburukan Kesehatan
Bagikan:

DENPASAR –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
IAEA Siap Verifikasi Aktivitas Nuklir Iran, Dorong Solusi Diplomatik
Menjadi Peserta, Pegawai BPJS Kesehatan Ini Turut Rasakan Manfaat Program JKN
Marquez Kembali Pimpin Klasemen Setelah Menangi Sprint di Australia
BPJS Kesehatan Gandeng MUI Palangka Raya Perluas Edukasi JKN Lewat Tasbih JKN
Jendi Pangabean Ingatkan Junior Tak Cepat Puas Setelah Raih Emas
HKm Tani Sejati Siapkan Tiga Kolam Bioflok, SSMS Dorong Pengembangan Usaha Perikanan
Komentar (0)
Memuat komentar…







