JAKARTA –
**Borneonews - Ankara**, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Josep Borrell, menegaskan bahwa operasi militer besar yang dilakukan oleh Israel di kawasan pendudukan Tepi Barat tidak dapat dijadikan alasan untuk meluaskan konflik yang sudah terjadi di Gaza. Pernyataan ini disampaikan pada Rabu melalui platform *X*, di mana Borrell menyatakan bahwa tindakan tersebut tidak seharusnya dianggap sebagai justifikasi untuk memperluas perang yang telah berlangsung. Borrell juga mengkritik pernyataan yang dilontarkan oleh kepala otoritas luar negeri Israel, Israel Katz, yang mengaitkan situasi evakuasi penduduk Palestina dengan ketidakstabilan yang dapat meningkat. Menurutnya, pernyataan semacam itu berpotensi memperkeruh situasi yang sudah tegang. Sejak awal operasi militer di Tepi Barat bagian utara, yang dianggap sebagai operasi terbesar dalam dua dekade terakhir, jumlah korban telah meningkat. Setidaknya sepuluh warga Palestina dilaporkan tewas dalam serangan tersebut, berdasarkan data terbaru dari Kementerian Kesehatan Palestina. Ketegangan yang ada saat ini semakin meningkat menyusul serangan yang brutal dari Israel di Jalur Gaza. Sejak 7 Oktober 2023, lebih dari 40.500 orang, banyak di antaranya wanita dan anak-anak, telah kehilangan nyawa akibat serangan tersebut. Dalam konteks Tepi Barat, data yang ada menunjukkan bahwa setidaknya 660 warga Palestina telah tewas, dengan hampir 5.400 lainnya mengalami luka-luka. Pada 19 Juli, Mahkamah Internasional mengeluarkan sebuah opini bersejarah di mana mereka menyatakan bahwa pendudukan tanah Palestina oleh Israel selama beberapa dekade dianggap ilegal. Mahkamah tersebut juga menuntut agar semua permukiman yang ada di Tepi Barat dan Yerusalem Timur dievakuasi. Perkembangan situasi di kawasan tersebut terus menjadi perhatian global, dan reaksi internasional terhadap tindakan-tindakan tersebut diharapkan dapat memengaruhi langkah-langkah yang akan diambil di masa mendatang. ANTARA