BORNEONEWS, Sampit - Empat hari pasca lebaran, Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) alami infalsi yang cukup tinggi, yakni mencapai 0,65%, dengan indek harga konsumen (IHK) sebesar 124,59%.
Angka inflasi tersebut tentu meningkat dari bulan sebelumnya yang hanya 0,42%. Peningkatan itu terkadi karena harga bahan kebutuhan pokok selama bulan suci Ramadan cukup tinggi.
"Usai lebaran tahun ini, inflasi di Kota Sampit memang mengalami kenaikan. Dan itu di pengaruhi adanya peningkatan indeks harga semua kelompok pengeluaran," ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kotim Herry, Sabtu (9/7/2016).
Untuk kelompok bahan makanan yang mengalami kenaikan harga tertinggi adalah bahan makanan, yakni sebesar 1,85%. Selain itu, ada lima kelompok pengeluaran lagi yang mengalami kenaiakan dan sangat mempengaruhi terjadinya inflasi.
Antara lain, transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,41%. Makanan siap saji, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,25%. Kesehatan 0,11%, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,08%. Serta kelompok sandang yang mencapai 0,07%.
"Untuk komoditas yang memiliki andil inflasi terbesar di Kota Sampit, yakni daging ayam ras, ikan selar, ikan tenggiri, dan biaya servis kendaraan bermotor," ungkap Herry.
Walaupun hampir semua kelompok pengeluaran mengami kenaikan, namun ada beberapa kelompok tidak berubah, seperti rekreasi, pendidikan, dan olahraga. Sementara untuk yang mengalami penurunan yakni, tomat sayur, jeruk, tahu mentah, bawang merah, dan angkutan udara. (M HAMIM/m)








