**Borneonews - Jakarta**, 5 November 2024 akan menjadi tanggal yang dinantikan oleh banyak warga Amerika Serikat untuk menyalurkan suara mereka dalam pemilihan presiden yang akan menentukan pemimpin bagi lima tahun mendatang. Tanggal ini jatuh pada hari Selasa pertama di bulan November, sesuai dengan regulasi yang telah ditetapkan sejak tahun 1845 untuk pelaksanaan pemilihan presiden di negara tersebut.
Sebelum adanya ketentuan yang berlaku pada 1845, setiap negara bagian memiliki kebebasan untuk mengadakan pemilu kapan saja dalam jangka waktu 34 hari sebelum hari Rabu pertama di bulan Desember. Namun, sistem tersebut dianggap memiliki kelemahan, sehingga diatur agar pemungutan suara dilakukan dalam satu hari khusus.
Pemilihan presiden di Amerika Serikat telah dilakukan sejak tahun 1788, ketika George Washington terpilih sebagai presiden pertama. Sejak saat itu, pemilihan presiden dijadwalkan setiap empat tahun, dan tahun ini menjadi bagian dari tradisi tersebut.
Kestabilan pemilu di negara ini membawa banyak keuntungan, terutama dalam hal memberikan kesempatan kepada partai-partai politik untuk menetapkan jadwal pemilihan pendahuluan yang memungkinkan mereka menghasilkan calon presiden yang berkualitas. Kendati demikian, di sepanjang sejarah pemilu AS, tampak bahwa ada beberapa "calon berkualitas" yang tidak berhasil meraih kemenangan, justru karena kalah dalam tahapan pemungutan suara.
Mengapa calon-calon berkualitas tersebut mengalami kekalahan tidaklah semata-mata sederhana, karena mereka bisa saja dikalahkan oleh kandidat lain yang memiliki kapabilitas lebih tinggi. Dalam kajian sejarah ini, akan dibahas dua contoh calon presiden yang hancur harapannya dalam pemilihan presiden AS di abad ke-20, khususnya antara Perang Dunia Kedua dan Perang Vietnam.
Calon pertama yang akan dibahas adalah Wendell Willkie (1892-1944), seorang kandidat dari Partai Republik yang kalah dari presiden petahana Franklin D. Roosevelt (FDR) dalam pemilu 1940. Banyak sejarawan yang mengakui bahwa FDR merupakan salah satu presiden terhebat dalam sejarah politik AS. Salah satu prestasi penting FDR adalah pemulihan AS dari pengaruh besar Depresi Besar yang terjadi pada tahun 1929.
FDR berhasil mengambil langkah-langkah produktif melalui program *New Deal*, yang terdiri dari kebijakan reformasi keuangan serta proyek-proyek pembangunan infrastruktur. Ia juga menciptakan jaminan sosial bagi masyarakat yang terpukul akibat kondisi tersebut. Selain itu, FDR memainkan peran penting dalam membawa AS menuju kemenangan dalam Perang Dunia Kedua, yang juga merevitalisasi kepercayaan masyarakat terhadap sistem demokrasi melawan ideologi fasis.
Meskipun begitu, dalam kontestasi pemilu 1940, FDR tidak berambisi untuk melibatkan AS dalam Perang Dunia Kedua melawan Jerman Nazi. Dalam kampanyenya, ia menjanjikan kepada pemilih bahwa jika terpilih, AS tidak akan terlibat dalam pertempuran apapun di mana pun.
Sementara itu, Wendell Willkie merupakan sosok yang paling vokal dalam menyuarakan keprihatinannya terhadap agresi pasukan Nazi di Eropa. Ia menyerukan agar AS memberikan bantuan kepada Inggris, negara besar yang masih tidak terjajah oleh Nazi. Namun, visi jauh ke depan Willkie belum cukup untuk menjadi faktor penentu kemenangan di pilpres, dan ia hanya memperoleh 44,8 persen dari suara pemilih.
Kekalahan Willkie dapat diatribusikan pada popularitas tinggi FDR serta keberhasilan program pertahanannya. Selain itu, ada stigma bahwa Willkie didukung oleh pebisnis besar, yang dianggap sebagai salah satu penyebab utama terjadinya krisis ekonomi selama Depresi Besar. Walau mengalami kekalahan, Willkie tidak berusaha menyerang FDR secara sembrono. Sebaliknya, ia membantu mendorong RUU Land-Lease yang ditetapkan oleh FDR, yang bertujuan mendukung pertahanan Inggris.
Willkie juga orang yang ditunjuk sebagai duta tidak resmi AS untuk Inggris. Ia melihat langsung kerusakan yang diakibatkan oleh Nazi dan setelah serangan Jepang terhadap Pearl Harbor, Willkie menunjukkan dukungan penuh kepada FDR. Selama masa perang, ia menjadi duta dengan mengunjungi beberapa wilayah di Timur Tengah, Rusia, dan China.
Senjakala hidupnya, Willkie menerbitkan buku berjudul *One World*, yang mengadvokasi pembentukan organisasi global pascaperang, yang kini terwujud dalam bentuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Meskipun berpikiran ke depan, sosok Willkie juga kritis terhadap kekuasaan FDR yang menjabat lebih dari dua periode. Tragisnya, ia meninggal dunia pada tahun 1944 akibat serangan jantung, tanpa bisa menyaksikan amendemen Konstitusi yang mengatur batasan masa jabatan presiden.
Selanjutnya, mari kita fokus pada tokoh capres berkualitas kedua, yaitu George McGovern (1922-2012), yang merupakan kandidat dari Partai Demokrat yang kalah dari presiden petahana Richard Nixon pada pemilihan umum 1972. McGovern adalah senator yang mewakili Negara Bagian South Dakota dan dikenal sebagai seorang juru damai.
Berbeda dengan Willkie yang menyoroti pentingnya keterlibatan AS dalam Perang Dunia Kedua, McGovern lebih menekankan pentingnya perdamaian dalam Perang Vietnam, di mana AS berperan aktif. Sebagai mantan anggota Angkatan Udara, McGovern tidak ingin melihat lebih banyak peperangan. Kepeduliannya terhadap nasib petani di daerah pedesaan dan upaya pemberantasan kelaparan membawanya diangkat oleh Presiden John Kennedy menjadi Direktur pertama Program *Food for Peace* pada tahun 1961.
Setelah terpilih sebagai senator pada tahun 1963, McGovern secara terbuka menunjukkan pandangannya yang anti perang, mengusulkan pengurangan anggaran pertahanan serta mengkritik kebijakan agresif AS terhadap Kuba. Ia juga menentang program peningkatan persenjataan militer. Menurutnya, dana pertahanan dapat dialihkan untuk mengatasi masalah kelaparan global.
McGovern adalah senator pertama yang secara terbuka menolak keterlibatan AS dalam Perang Vietnam, dan pada tahun 1969, ia mendesak dilakukannya gencatan senjata serta penarikan pasukan AS. Usaha tersebut, sayangnya, selalu kandas di Kongres.
Dengan dukungan besar dari kalangan mahasiswa dan berbagai gerakan akar rumput, McGovern berhasil meraih tiket capres Partai Demokrat pada 1972. Di saat itu, Nixon masih memiliki keunggulan popularitas berkat keberhasilannya menjalin hubungan diplomatik dengan China dan pengaturan pembatasan senjata dengan Uni Soviet. Hal ini dipertegas dengan munculnya gerakan "Demokrat untuk Nixon", yang mencerminkan ketidakpuasan sebagian anggota Partai Demokrat terhadap sikap anti-perang McGovern.
Akibatnya, pemilihan presiden 1972 pun dimenangkan secara telak oleh Nixon dengan perolehan suara mencapai 61 persen. Seiring berjalannya waktu, terungkap skandal Watergate yang mengganggu pemerintahan Nixon, yang berujung pada pengunduran dirinya pada tahun 1974.
Meskipun kalah, McGovern tetap aktif di bidang lainnya, termasuk merilis Laporan McGovern tentang "Sasaran Pola Makan untuk Amerika Serikat" pada tahun 1977, yang berisi panduan nutrisi untuk masyarakat demi mengatasi masalah kesehatan. Ini mencakup pengurangan konsumsi lemak, kolesterol, gula olahan, serta peningkatan konsumsi karbohidrat dan serat.
Pada tahun 2000, McGovern dianugerahi *Presidential Medal of Freedom* sebagai penghargaan tertinggi bagi warga sipil di AS atas dedikasinya dalam pengentasan kelaparan global. Ia meninggal dunia pada tahun 2012 dikelilingi oleh keluarga. Presiden Barack Obama pun memberikan penghormatan kepada McGovern sebagai "pahlawan perdamaian" dan "negarawan dengan integritas serta komitmen yang tinggi."
Kisah kehidupan Wendell Willkie dan George McGovern menunjukkan bahwa kemenangan dalam pemilihan presiden bukanlah satu-satunya ukuran seorang negarawan sejati. Seorang pemimpin dapat tetap bersinarseperti berlianmeski dikelilingi oleh kritik atau cemoohan.
ANTARA
Calon Berkualitas yang Gagal Menang di Pilpres AS, Mengapa?
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Bayi Laki-Laki Ditemukan di Pelataran Musala di Kotabaru
Warga Kasongan Dihebohkan Penemuan Mayat Membusuk di Parit Jalan DI Panjaitan
Topan Champi Ancam Taiwan, Sekolah dan Perkantoran Ditutup di 20 Wilayah
Distribusi Masih Jadi Hambatan, Industri Komik Indonesia Dinilai Punya Potensi Besar
Iran Ancam Gunakan Taktik Baru jika AS Kembali Lancarkan Serangan
OJK Kalteng Tekankan Manfaat Nyata Inklusi Keuangan bagi Kesejahteraan Masyarakat
Komentar (0)
Memuat komentar…







