JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Staf Ahli Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Raden Pardede, mengungkapkan bahwa sektor manufaktur merupakan salah satu alternatif yang dapat memberikan dukungan bagi kelas menengah. Dalam seminar yang bertajuk Optimisme Baru Pembangunan Ekonomi Era Pemerintahan Prabowo-Gibran, yang berlangsung di Jakarta, Raden menyampaikan bahwa sektor formal dan manufaktur, yang memiliki tingkat produktivitas yang cukup tinggi, menjadi fondasi penting bagi kelas menengah. Sejak berlangsungnya pandemi COVID-19, kelas menengah mengalami penurunan yang signifikan. Raden menjelaskan bahwa pada periode tersebut, perekonomian mengalami tantangan yang serius. Dia juga mencatat bahwa selama masa tersebut, pemerintah lebih fokus memberikan bantuan kepada kelompok masyarakat yang tergolong miskin dan rentan, sementara kelompok kelas atas relatif lebih terlindungi. Sebaliknya, kelompok kelas menengah justru mengalami dampak yang lebih berat. Dalam beberapa tahun terakhir, Raden menyoroti bahwa penciptaan lapangan kerja cenderung terjadi di sektor informal dan lapangan kerja yang kurang produktif. Contoh konkret adalah meningkatnya pekerjaan di bidang ojek daring, yang lebih berfokus pada layanan jasa ketimbang produksi barang. Menurut Raden, strategi ke depan perlu difokuskan pada pengembangan sektor yang lebih produktif dan formal, dengan manufaktur sebagai prioritas utama. Dengan meningkatnya partisipasi kelas menengah dalam sektor manufaktur, kualitas produk yang dihasilkan diharapkan dapat meningkat. Ini akan berdampak langsung pada produktivitas manufaktur, sehingga pendapatan kelas menengah dapat memadai untuk mendukung daya beli mereka. Apabila hal tersebut terwujud, Raden yakin bahwa roda ekonomi akan bergerak secara mandiri. Daya beli yang kuat akan mendorong masyarakat untuk membeli barang-barang yang dihasilkan oleh sektor manufaktur. Di sisi lain, pemerintah juga telah mengeluarkan program tambahan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) serta kuota subsidi untuk Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa kedua program ini ditujukan untuk memperkuat kelas menengah yang dianggap sebagai penggerak utama perekonomian. Lebih lanjut, Airlangga memberikan definisi mengenai masyarakat kelas menengah dari segi pola konsumsi, di mana sebagian besar pengeluaran mereka dialokasikan untuk makanan dan minuman, diikuti oleh perumahan, kesehatan, pendidikan, serta hiburan. Ia juga menekankan bahwa sektor perumahan kini menjadi salah satu pengeluaran terbesar kedua bagi masyarakat kelas menengah, sehingga pengaturan kebijakan pemerintah di sektor ini sangatlah penting. ANTARA