JAKARTA –
**Borneonews - London**, Menteri Luar Negeri Norwegia, Espen Barth Eide, menyampaikan kecaman tegas terhadap pernyataan pemimpin keamanan Israel, Itamar Ben-Gvir, yang mengusulkan pembangunan sinagoge di kompleks Masjid Al-Aqsa, yang terletak di wilayah pendudukan Yerusalem Timur. Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada hari Rabu, Eide menyebutkan, "Norwegia sangat menentang pernyataan terkini dari Menteri Keamanan Israel mengenai niatnya untuk mendirikan sinagoge di *Haram al-Sharif/Bukit Bait Suci*." Eide juga menekankan bahwa tindakan provokatif yang diambil oleh Ben-Gvir merupakan bagian dari rangkaian pernyataan dan tindakan tidak dapat diterima oleh pejabat Israel yang bertujuan untuk mengubah status quo historis di Yerusalem. Ia menilai bahwa tindakan tersebut hanya akan menambah ketegangan di saat kawasan ini sangat membutuhkan upaya untuk meredakan situasi. Lebih lanjut, Menteri Luar Negeri Norwegia itu menyatakan bahwa fokus utama semua pihak haruslah pada pencapaian gencatan senjata di Jalur Gaza, pembebasan sandera, serta upaya untuk menurunkan ketegangan, terutama di Yerusalem Timur dan Tepi Barat. Eide juga mendesak agar semua pihak menghormati status quo yang ada untuk tempat-tempat suci di Yerusalem dan perwalian Yordania. Kecaman ini diungkapkan setelah Ben-Gvir menyatakan pada hari Senin bahwa orang Yahudi berhak untuk berdoa di Masjid Al-Aqsa dan menyampaikan niatnya untuk membangun sinagoge Yahudi di dalam salah satu situs suci umat Islam tersebut. Pernyataan ini memicu reaksi internasional yang keras, karena khawatir akan risiko meningkatnya konflik agama. Dalam beberapa bulan terakhir, Ben-Gvir telah berulang kali menyerukan kepada para pendukungnya untuk melakukan doa di tempat yang dianggap suci oleh umat Islam tersebut. Namun, pernyatannya mengenai pembangunan sinagoge menjadi yang pertama kalinya ia secara terbuka mengungkapkan niat tersebut. Pengumuman ini datang di saat ketegangan meningkat, di mana kompleks Masjid Al-Aqsa kerap menjadi lokasi serangan dari para pemukim ilegal Israel, yang didukung oleh aparat kepolisian Israel. Masjid Al-Aqsa merupakan situs tersuci ketiga bagi umat Islam dan sekaligus menjadi simbol penting identitas bangsa Palestina. Mengacu pada sejarah, kompleks Masjid Al-Aqsa berada di bawah pendudukan Israel sejak perang Arab-Israel pada tahun 1967. Israel kemudian mencaplok seluruh kota Yerusalem pada tahun 1980, langkah yang hingga kini tidak diakui oleh masyarakat internasional. ANTARA