**Borneonews - Jakarta**, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan mengungkapkan harapannya untuk menyelesaikan perundingan perjanjian perdagangan antara Indonesia dan Uni Eropa, yang dikenal dengan nama *Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement* (IEU-CEPA), pada bulan September 2024. Zulkifli berharap agar kesepakatan tersebut dapat tercapai dengan realisasi yang lebih cepat.
Semoga pada bulan September nanti, kita bisa mencapai kesepakatan, ungkapnya dalam sebuah konferensi pers di Jakarta pada Kamis. Ia menjelaskan bahwa perjanjian IEU-CEPA akan berfungsi untuk mengatasi berbagai kendala dalam perdagangan antara Indonesia dan negara-negara anggota Uni Eropa.
Zulkifli menekankan bahwa mencapai kesepakatan dengan Uni Eropa bukanlah hal yang mudah. Proses perundingan untuk IEU-CEPA ini telah berlangsung selama sembilan tahun. Menurutnya, kesepakatan ini sangat penting demi kemajuan perdagangan kedua belah pihak, mengingat terdapat banyak manfaat yang bisa diperoleh setelah perjanjian dagang tersebut benar-benar terwujud. Salah satunya adalah penghapusan Bea Masuk untuk produk-produk Indonesia yang diekspor ke Uni Eropa.
Sebagai contoh, Zulkifli mencatat bahwa produk sepatu dari Indonesia saat ini masih dikenakan Bea Masuk sebesar 5-6 persen ketika memasuki pasar Uni Eropa karena belum adanya perjanjian perdagangan. Ia menambahkan, "Sementara itu, jika produk sepatu dari Vietnam diekspor ke Uni Eropa, mereka tidak dikenakan pajak atau Bea Masuk. Hal ini menyebabkan posisi kita menjadi kalah bersaing."
Sementara itu, Staf Ahli Menteri Bidang Perdagangan Internasional, Bara Krishna Hasibuan, juga menyatakan bahwa Uni Eropa merupakan mitra dagang yang sangat penting bagi Indonesia, mengingat besar nya pasar mereka. Ia menegaskan bahwa baik Indonesia maupun Uni Eropa telah menunjukkan komitmen untuk segera menyelesaikan perundingan ini.
Bara juga menekankan bahwa perjanjian perdagangan antara kedua pihak tidak hanya akan menguntungkan dalam hal penghapusan pajak atau Bea Masuk. Ia menyebutkan bahwa terdapat banyak isu lain yang perlu diselesaikan, seperti peraturan deforestasi Uni Eropa (EUDR) dan *carbon border adjustment mechanism* (CBAM). "Uni Eropa adalah mitra perdagangan yang vital dengan pasar yang sangat besar. Setelah CEPA ini selesai, diharapkan hubungan dagang Indonesia dengan Uni Eropa akan lebih kuat dan tantangan terkait EUDR serta CBAM tidak menjadi penghalang," ujar Bara.
Dengan demikian, penyelesaian perundingan IEU-CEPA menjadi sangat krusial untuk peningkatan daya saing dan hubungan dagang yang lebih harmonis antara Indonesia dan Uni Eropa.
ANTARA
Perundingan Perdagangan Indonesia-Uni Eropa Ditargetkan Selesai September 2024
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Kompleks Pasar Tumbang Sanamang Katingan Ludes Terbakar, Kerugian Ditaksir Miliaran Rupiah
Kalteng Perlu Waspada Kekeringan hingga Awal 2027, BNPB Siapkan Mitigasi El Nino
Kabut Asap, Kecelakaan Menewaskan Dua Pengendara di Sudirman Km 9 Sampit
Menteri UMKM: Ojol Bisa Akses KUR untuk Beli Motor dan Modal Usaha
Akademisi Soroti Kemarau Panjang dan Lahan Gambut dalam Karhutla Kalteng
IPLM dan Perpustakaan Sekolah
Komentar (0)
Memuat komentar…







