**Borneonews - Denpasar**, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan telah berinisiatif untuk menanamkan perilaku hidup sehat di kalangan masyarakat. Langkah ini bertujuan untuk membantu efisiensi pengeluaran anggaran dalam layanan kesehatan di Indonesia.
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Ali Ghufron Mukti, menjelaskan bahwa dengan kesadaran akan pentingnya kesehatan, BPJS tidak perlu mengeluarkan biaya yang besar. "Jika masyarakat sehat, negara pun akan lebih kuat dan pengeluaran bisa diminimalkan," ujarnya saat meresmikan taman budaya di Lapangan Niti Mandala Renon, Kota Denpasar, Bali.
Ali Ghufron menekankan bahwa pola hidup sehat sangat berkaitan dengan perilaku masyarakat, termasuk dalam hal pemilihan asupan makanan yang bergizi. Ia mengingatkan agar masyarakat lebih bijak dalam mengonsumsi makanan yang tinggi kolesterol, gula, dan garam, karena dapat memicu berbagai penyakit serius dan kronis.
Mendorong masyarakat untuk rajin berolahraga juga menjadi bagian dari kampanye hidup sehat yang digalakkan. Menurutnya, selain perhatian pada asupan nutrisi dan aktivitas fisik, kesehatan mental juga berperan penting. Kesehatan mental berkontribusi terhadap kondisi kesehatan secara keseluruhan yang dipengaruhi oleh lingkungan, baik di tempat kerja maupun di rumah.
"Untuk itu, penting agar lingkungan kita mendukung kesehatan, bukan menambah masalah," imbuhnya. Lingkungan yang sehat, termasuk tempat tinggal yang bersih dan nyaman, serta sistem layanan kesehatan yang baik, menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Berdasarkan data yang dirilis BPJS Kesehatan per 1 Agustus 2024, jumlah peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tercatat mencapai 276.520.647 jiwa, yang setara dengan 98,19 persen dari total populasi. Namun, terdapat sekitar 1,81 persen penduduk Indonesia yang belum terdaftar dalam program JKN ini.
Selama tahun 2023, BPJS Kesehatan melaporkan pengeluaran untuk pelayanan kesehatan terkait penyakit katastropik mencapai Rp34,7 triliun, dengan hampir 30 juta kasus terlayani. Angka ini mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun 2022, yang tercatat sebesar Rp17 triliun untuk 17,8 juta kasus.
Dari total biaya tersebut, penyakit jantung menduduki posisi teratas dengan biaya mencapai Rp17,6 triliun, meliputi 20 juta kasus. Selain penyakit jantung, terdapat tujuh jenis penyakit katastropik lain yang juga menyerap biaya besar, seperti sirosis hati, gagal ginjal, gangguan sistem peredaran darah atau hemofilia, kanker, leukimia, stroke, dan talasemia.
ANTARA
BPJS Kesehatan Ajak Masyarakat Hidup Sehat untuk Hemat Anggaran
Bagikan:

DENPASAR –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Bupati Lamandau Soroti Pencegahan Karhutla dan Tanggung Jawab Perusahaan saat Tinjau Eks Konsesi Grace dan PWN
Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya Evaluasi Pelaksanaan PJJ di Tengah Kabut Asap
Ini 2 Lokasi Depot Air Gratis di MB Ketapang Sampit
Oli Berceceran di Bundaran Besar Jalan Pemuda Kapuas
Anak Beruang Madu yang Terpisah dari Induknya Diselamatkan Warga Seruyan
Meski Awal Musim Hujan di Kapuas Diprediksi November, El Nino Berpotensi Kurangi Intensitas Hujan hingga 2027
Komentar (0)
Memuat komentar…







